Batik Shibori Buatan Warga Minggir Ini Punya Peminat Hingga Manca Negara

Sleman – Shibori berasal dari bahasa Jepang, merupakan teknik menghias kain dengan cara melipat kain dalam pola tertentu lalu mencelupkannya ke dalam larutan pewarna. Di Indonesia teknik ini lebih dikenal dengan nama jumputan.Sukiyatmoyo, warga Sendangagung, Minggir, Sleman, adalah salah satu penggiat batik dengan teknik Shibori. Dalam wawancara langsung bersama pria yang akrab disapa Mbah Kiyat ini, ia menuturkan proses awal ia terjun sebagai pembuat batik Shibori.
Mbah Kiyat mulanya belajar dari keponakannya, Aji, sebelum kemudian mencoba sendiri di rumah. Pada Agustus 2016, ia pun memberanikan diri berkecimpung di dunia batik sebagai pembuat pun penjual.
Mbah Kiyat membeberkan bahwa motif dari batik Shiborinya merupakan hasil uji cobanya sendiri.
“Motif itu dari pengalaman yang sudah-sudah. Kalau membentuk segitiga kaya gini nanti jadinya kaya gini, celupannya kaya gini jadinya kaya gini,” jelas Mbah Kiyat.
Hasil akhirnya, setiap motif yang ia buat belum tentu sama dengan yang sebelumnya. Ini bisa dipengaruhi banyak hal, seperti kekencangan ikatan, lipatan, ataupun jenis kain. Sampai saat ini, karena Mbah Kiyat belum menguasai teknik menjahit jadi ia masih menjual batik Shiborinya dalam bentuk kain.
“Saya sendiri tidak bisa menjahit dan untuk menemukan penjahit dengan kualitas baik dan murah susah,” tutur Mbah Kiyat.
Menggunakan kain katun dengan jenis prima dan primisima, Mbah Kiyat memberikan jaminan bahwa kain batik buatannya memiliki kualitas yang lebih baik meski harga yang ia patok terbilang mahal, yakni 100-125 ribu rupiah.
Selama ini, Mbah Kiyat membuat batik sesuai dari pesanan yang ia peroleh dari media promosinya, Instagram untuk online dan pameran untuk offline. Melalui dua cara ini, Mbah Kiyat mampu mendapatkan pembeli dari luar Jawa bahkan luar Indonesia, yakni Malaysia. Kerjasama dengan pihak Malaysia ini, sempat terkendala dalam proses pengiriman namun terselesaikan karena akhirnya mereka melakukan pembelian secara langsung.
“Mereka yang dari Malaysia datang ke sini,” ungkap Mbah Kiyat.
Meski Mbah Kiyat paham akan ada banyak kendala yang mungkin menantinya di depan, Mbah Kiyat berharap di kemudian hari dapat terus meluaskan pasarnya.

