Masyarakat Diminta Waspada, Banjir Mendadak Sulit Diprediksi

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meminta masyarakat Sleman terutama yang tinggal di dekat sungai untuk terus meningkatkan kewaspadaannya pada musim hujan seperti sekarang ini. Karena bencana  banjir itu mendadak dan sulit diprediksi.

“Jangan sampai banjir yang terjadi di Magelang beberapa hari lalu dan menjebak 10 truk pasir  terjadi di Sleman,” kata Sri Purnomo, Selasa (1/11).

Karena itu menurut Sri Purnomo, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman  akan memaksimalkan potensi yang dimilikinya agar hal serupa tidak terjadi di Sleman.‬

‪”Relawan-relawan  yang ada di atas kita minta siap setiap saat, sekolah tanggap bencana trus kita galakkan,” kata Sri Purnomo.

‪Selain itu juta terus menguatkan koordinasi antara bagian bawah dan bagian atas yang ada di lereng Merapi.‬

‪”Misalnya ketika ada hujan besar di bagian atas maka relawan dan petugas yang ada di atas harus cepat menginformasikan hingga ke bawah.‬

‪Dari banyaknya sungai yang berhulu ke Merapi dikatakan Sri Purnomo tidak ada perbedaan antara satu dan lainnya semua harus diwaspadai.‬ Kabupaten Sleman sendiri sudah menetapkan siaga bencana banjir sejak tanggal 21 Oktober hingga 30 November mendatang.

Sementara sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, hingga Barat Laut, meliputi Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Kringsing, dan Kali Apu masih memiliki potensi terjadi banjir lahar hujan.‬

BPBD Kabupaten Sleman dan DIY telah memetakan titik rawan bencana lahar hujan di sekitar sungai Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Sleman.‬

Ada 76 dusun yang masuk peta rawan bencana banjir lahar. Dusun-dusun tersebut berada di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Seperti Sungai Boyong, Gendol, Opak dan Code. Sungai Boyong yang rawan banjir lahar hujan meliputi wilayah Kecamatan Pakem, sebagian Turi, Ngaglik, Mlati dan Depok. Sungai Gendol dan Opak rawan di Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Kalasan dan Prambanan.‬




‪BPBD Imbau Masyarakat Waspadai Angin Kencang Pancaroba‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai potensi angin kencang pada musim pancaroba saat ini.‬

‪”Selama peralihan musim hujan ke kemarau ini, potensi terjadinya angin kencang masih cukup tinggi,” kata BPBD Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MH, Selasa (24/5).‬

‪Menurut Julisetiono, masyarakat harus tetap waspada terhadap kondisi peralihan cuaca yang ekstrim.‬

‪”Perubahan dari panas ke mendung dapat menyebabkan angin kencang. Karena itu, di masa pancaroba ini masyarakat tetap perlu berhati-hati apalagi kejadiannya mendadak,” katanya.‬

‪Julisetiono mengatakan, potensi angin kencang biasanya ditandai kondisi cerah dan panas pada pagi hari, namun tiba-tiba siangnya berubah menjadi mendung pekat.‬

‪”Perbedaan tekanan udara secara mendadak ini yang berpotensi menimbulkan angin kencang. Bahkan jika suhu udara berubah dingin dapat memunculkan kejadian hujan es,” katanya.‬

‪Julisetiono mengatakan, mengingat potensi angin kencang masih relatif tinggi, pihaknya menyarankan warga untuk memangkas pohon di lingkungan sekitar tempat tinggal yang dirasa terlalu rimbun atau rawan roboh.‬

‪”Ini untuk langkah antisipasi agar saat terjadi peristiwa angin kencang, tidak ada kerugian materiil maupun korban jiwa akibat pohon tumbang,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, dalam hal ini butuh kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan.‬

‪”Perlu diingat bahwa bencana tidak mungkin bisa dihindari tapi setidaknya ancaman dapat diminimalisir,” katanya.‬

‪Sementara Koordinator Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca BMKG Jogja, Joko Budiyono mengatakan pada umumnya kondisi cuaca di DIY lebih dominan berawan.‬

‪”Secara umum penyebab hujan dalam beberapa hari karena beberapa faktor seperti faktor global yakni menguatnya angin pasat timuran yang berdampak pada penambahan massa uap air dari samudera pasifik menuju ke wilayah Indonesia,” katanya.‬

‪Selain itu faktor regional yakni aktifnya “madden julian oscilator” (MJO) di wilayah Indonesia yang menyebabkan suhu permukaan laut di pesisir selatan jawa cukup hangat dengan anomali.‬

Kemudian faktor lokal yakni faktor topografi utamanya untuk dataran tinggi akan lebih cepat dan mudah dalam proses pembentukan awan. Melihat faktor-faktor itulah maka potensi pembentukan awan hujan masih akan terjadi di wilayah DIY hingga beberapa hari ke depan.




Masyarakat Diminta Waspada Sleman Utara Rawan Angin Kencang

Sleman – Masyarakat Kabupaten Sleman khususnya yang tinggal di wilayah Sleman bagian utara, dihimbau untuk mewaspadai  bencana angin kencang. Pasalnya beberapa hari terakhir, kawasan tersebut sering dilanda hujan disertai angin.

Bahkan peristiwa pada Minggu (18/1) sore lalu mengakibatkan kandang ayam milik Jayeng Tirtamartana (45), warga Dusun Tapansari, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, roboh total karena tertimpa pohon. Dari berbagai informasi yang diperoleh, di dalam kandang itu terdapat ekor ayam potong siap jual. Selain kandang ayam, peristiwa itu juga merusak dua rumah warga di Desa Candibinangun. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

“Ada dua rumah yang rusak akibat tertimpa pohon tapi tidak parah. Total nilai kerugiannya belum dihitung,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito ketika ditemui dikantornya, Senin (18/1).

Pada hari yang sama lanjut Julisetiono juga terjadi musibah kebakaran rumah di Dusun Ngepring, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem. Rumah yang terbakar masing-masing milik Ny Minuk (40), dan Yulianto (33).

Bertepatan kejadian hujan disertai angin kencang, aliran listrik di daerah itu padam. Dari laporan yang diterima BPBD, penyebab kebakaran adalah lilin yang menyala kemudian jatuh menyambar bagian rumah. Untuk mengantisipasi peristiwa serupa terulang, dia menghimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Berdasar informasi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung sepanjang bulan Januari dan Februari.

“Kami selalu mendapat info peringatan dini, dan langsung disebarkan ke masyarakat. Tapi kondisi memang sulit diperkirakan bahkan prediksinya cuaca seperti sekarang berlangsung sampai April,” kata Julisetiono.

Dari pemetaan BPBD, jumlah daerah rawan angin kencang bertambah. Awalnya hanya ada empat kecamatan yang masuk zona rawan yakni Kalasan, Sleman, Seyegan, dan Mlati. Namun data terakhir per tahun 2015 ada 15 kecamatan di Sleman yang disinyalir rawan angin kencang.

“Saat ini hampir seluruh wilayah kecamatan di Sleman rawan angin kencang,” tutur Julisetiono.




Waspadai Penyakit Pada Saat Pancaroba

Sleman – Musim pancaroba yang terjadi secara tidak menentu menimbulkan berbagai penyakit, mulai dari yang ringat hingga yang berat. Ketika pancaroba banyak masyarakaat yang terserang berbagai penyakit. Tidak jarang penyakit tersebut  berakibat kematian  bila tidak ditangani dengan baik.

Seandainya tidak menimbulkan kematian, penyakit tersebut bisa mengganggu aktivitas kesehatan. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes saat dijumpai di ruang kerjanya, Jumat (15/1).

Disampaikan Linda panggilan Mafilindati, bahwa beberapa penyakit yang perlu diwaspadai di musim pancaroba tersebut  antara lain Diare, dimana gejalanya biasanya buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah. Diare tersebut biasanya disebabkan oleh virus tetapi juga seringkali akibat dari acun bakteri.

Sedang untuk ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) gejalanya badan pegal-pegal (Myalgia), beringus (rhinorrhea), batuk, sakit kepala, sakit pada tenggorokkan. Penyebab terjadinya ISPA adalah virus, bakteri dan jamur.

“Sementara penyakit yang lain disaat pancaroba adalah Demam  Berdarah Dengue (DBD), yaitu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk peredaraan manusia dan melalui gigitan nyamuk  Aedes Aegypti,” kata Linda.

Termasuk penyakit Chikungunya, biasanya terjdi pada musim pancaroba yang disebabkan oleh virus alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala utama terkena penyakit chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu dipersendian. Bahkan karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga rasa sakit pada tulang-tulang.

Yang jelas, tambah Linda penyakit yang lain di saat pancaroba tersebut Leptospirosis, Typhoid dan Hepatitis A. Karena itu diharapkan masyarakat  selalu waspada pada saat pancaroba seperti saat ini, karena penyakit pada musim pancaroba tersebut dapat berulang seiring dengan perubahan musim.

Upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengantisipasi meningkatnya penyakit saat pancaroba tersebut dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat melalui perilaku hidup bersih daan sehat (PHBS) diantaranya dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan yang lebih penting adalah memberantas jentik secara rutin.

Disamping itu memperkuat daya tahan tubuh dengan cara mengkomsumsi makanan yang sehat dan bergisi. Sedangkan kasus DBD pada tahun 2015  ada 520 kasus, dengan 9 diantaranya meninggal dunia, untuk tahun 2016 sampai dengan tanggal 15 Januari 2016 terjadi 7 kasus dengan meninggal 1 anak berusia 6 tahun dari Seyegan.




Di Sleman Pengkotaan Desa Harus Diwaspadai

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi menilai pembangunan di wilayah Sleman yang harus diwaspadai berupa kegiatan yang mengarah pada pengkotaan desa-desa.

“Pembangunan yang mengarah kepada mengkotakan desa-desa ini perlu diwaspadai, harus diproteksi,” kata Gatot di Sleman, Sabtu (17/10).

Menurut Gatot, pemerintah daerah harus komitmen soal tata ruang, sehingga komposisi perkotaan dan perdesaan harus seimbang.

“Pembanguna pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan lainnya harus dikendalikan. Sebanyak 12 ribu sekian harus merupakan wilayah perkotaan, dan 10 ribu tetap sebagai wilayah pedesaan,” kata Gatot.

Gatot menambahkan masalah yang muncul adalah alih fungsi lahan dan masalah konservasi air, di mana Kabupaten Sleman selama ini merupakan lumbung pangan bagi DIY.

Selain itu, Kabupaten Sleman daerah tangkapan air bagi wilayah di bawahnya, seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

“Luas lahan pertanian yang 15 ribu hektare harus dipertahankan untuk menjaga swasembada pangan dan ketahanan pangan,” tuturnya.

Gatot mengatakan upaya yang dilakukan dengan memberikan insentif pelaku pertanian di wilayah setempat.

“Insentif dan kemudahan bagi pelaku pertanian ini harus diberikan. Selain itu ektensifikasi pertanian harus ditingkatkan. Ada masyarakat yang tidak goyah dengan iming-iming lahan pertanian dijadikan bangunan-bangunan beton,” katanya.

Selain itu, katanya, dari sisi perizinan harus solid dan tidak mudah memberikan izin-izin yang mengarah kepada alih fungsi lahan dan pembangunan yang mengancam pertanian dan konservasi air.

“Sekarang perizinan di Sleman mengarah satu atap. Ini jadi pintu masuk mengendalikan kawasan Kabupaten Sleman, belum terlambat meski harus ada masa transisi,” kata Gatot.