Tari Trengganon, Tarian Salawat Berlatar Belakang Islam

Sleman- Tari Trengganon menjadi salah satu kesenian yang tampil dalam acara Sleman Gumyak Jumat (6/3/2020) di Wisdom Park UGM.

Tari Trengganon termasuk dari kesenian tarian rakyat yang sudah tua. Tari Trengganon ini bisa disebut juga tarian turun temurun dari nenek moyang yang sampai saat ini masih hidup walaupun sudah jarang sekali ditemui. Demikian dikatakan Sayadi, Pembina Tari Trengganon Al-Fatah, usai kelompoknya pentas.

Dijelaskan Sayadi, tarian ini termasuk kesenian atau tarian rakyat dengan jenis tarian salawatan berlatar belakang Islam. Kesenian tari yang berdiri sejak tahun 1980 ini hanya tinggal satu yang masih aktif dan berkembang hingga saat ini, yakni di Desa Parakan Wetan, Sendangsari, Minggir, Sleman.

“Sejarah terian ini dulunya berasal dari Malaysia yang bernama Tarangganu,” tukas Sayadi.

Menurut Sayadi, Tari Trengganon ini memiliki keunikan tersendiri misalnya dari pakaian dan gerakannya.

“Pakaian yang digunakan merupakan perpaduan antara pakaian Melayu dan kain tradisional Jawa, sedangkan gerakannya seperti gerakan silat Melayu. Diiringi oleh lagu dan alat musik tradisional bedug dan rebana yang dibawakan oleh orang-orang tua. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga beragam yakni salawat dan lagu daerah Melayu,” ujar Suyadi.

Sayadi mengatakan bahwa pihaknya berupaya terus melestarikan Tari Trengganon tersebut dengan merintis anak-anak yang masih kecil untuk dijadikan penari.

“Agar tidak punah dan masih tetap ada di Indonesia khususnya di Sleman,” kayanya mantab.

Gayung bersambut Egis Firmansyah, salah satu penari mengaku bahwa dirinya mulai belajar tarian tersebut sejak umur 8 tahun.

“Saya sangat senang bisa belajar Tarian Trengganon ini, yang mungkin tidak semua orang bisa memainkan tarian tersebut,” ucapnya dengan bangga. (Rep Septian)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts