Tenun Serat Alam Diminati hingga Penjuru Negeri

Sleman – Sejak tahun 1998, Waludin (46) telah menggeluti seni kerajinan tenun. Waludin mengunggulkan bahan dasar serat alam dari enceng gondok, akar wangi, lidi, dan mendong untuk menghasilkan produk yang khas dan unik.

Tak disangka, produknya ini ternyata masih sangat diminati oleh masyarakat khususnya wisatawan dari luar negeri. Dikatakannya, produk buatan rumahan ini telah laku terjual hingga ke Jerman dan Jepang.

“Ternyata di luar negeri banyak peminatnya, terutama untuk wisatawannya karena mungkin dari pandangan mereka serat alam ini akan lebih awet dan juga ramah lingkungan,” ujar Waludin, saat ditemui Rabu (29/1/2020) di Sentra Industri Tenun Gamplong, Dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan.

Waludin bercerita, keunikan produknya ada pada bahan dasar yang ia peroleh dari Gunung Kidul, Semarang, hingga Jawa Barat. Bahan dasar ini bersama 10 karyawannya dibuat menjadi handy craft, taplak meja, pun alas piring. “Yang dibuat dan juga yang sering dipesan di kita adalah alas piring kemudian taplak meja,” paparnya.

Untuk jumlah produksi sendiri Waludin menjelaskan bahwa produksi tenun ini tergantung dari bahan dasar yang dipilih dan kesulitan motif. “Untuk produksi kita tergantung bahan juga, kalau akar wangi itu agak lama, kalau yang lain mungkin rata–rata untuk produksi yang standar 1 bulan bisa 5 ribu buah,” jelasnya.

Kesulitan motif dan bahan dasar juga mempengaruhi harga pasaran produk Waludin. “Mulai dari Rp2.500 sampai dengan ratusan ribu rupiah, semakin sulit tingkat pengerjaan maka harga juga semakin tinggi apalagi jika ada permintaan desain motif,” tandasnya.

Ke depan, Waludin berharap para pengrajin yang dimilikinya mampu regenerasi sehingga kerajinan tenun ini bisa terus berkembang. “Mungkin ke depannya yang menjadi PR kita bagaimana kalau yang sepuh (tua-red) sudah tidak produktif nah kita harus ada regenerasi,” beber Waludin. (Rep Naci)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts