Vert Terre, Bisnis Ramah Lingkungan yang Berawal dari Gaya Hidup

Dewasa ini, generasi milenial telah banyak yang sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan. Bahkan, tidak sedikit yang mengadopsi gaya hidup eco-friendly demi menjaga lingkungan disekitar tetap bersih tanpa menyisakan sampah, terutama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Mengutip artikel Daniel Holzer yang berjudul ‘What Does Eco-Friendly mean’, eco-friendly atau ramah lingkungan secara harfiah adalah sesuatu yang tidak merusak lingkungan. Artinya, gaya hidup eco-friendly ini merupakan praktik keseharian seseorang yang tidak merusak lingkungan, seperti menggunakan peralatan ramah lingkungan yang tidak menyebabkan polusi.

Semangat akan pentingnya untuk hidup ramah lingkungan ini menjadi alasan Tiffani Rizki Putri Baihaqi (22 tahun) dalam merintis usaha berbasis eco-friendly. Bersama temannya, Ratri Sekar Wening (22 tahun) yang sama-sama terbiasa untuk hidup ramah lingkungan, Ia memulai bisnis eco-friendly untuk menyebarkan semangat hidup ramah lingkungan kepada orang lain.

“Awalnya aku dan Ratri sering bawa sedotan stainless gitu, teman-teman kita ngelihat gitu pada suka, jadi ingin beli tapi di Jogja belum ada yang jual,” ungkap Tifani ketika dihubungi pada Kamis (25/2/2021).

Atas alasan itulah, Ia dan Ratri pada tahun 2018 berinisiatif untuk membuka usaha berbasis gaya hidup ramah lingkungan, yang ia beri nama Vert Terre. Vert Terre merupakan toko curah yang menawarkan barang-barang keseharian yang ramah lingkungan, seperti sedotan stainless steel.

Vert Terre sendiri diambil dari Bahasa Perancis yang artinya bumi hijau, yang menurut Tifani sesuai dengan tujuan dari bisnis yang dirintisnya, yaitu menghadirkan barang-barang ramah lingkungan.

Awal merintis usahanya, Tifani dan Ratri mengaku hanya menawarkan dagangannya melalui sistem online. Para pelanggan hanya bisa melihat dan memesan barang-barang yang mereka tawarkan melalui akun Instagram @vert.erre. “Pelanggan awal itu ya teman-teman kita, mereka beli ke kita, terus mereka update gitu ke teman-teman yang lain, jadi banyak yang tertarik,”ujar Tifani.

Karena banyaknya pesanan, akhirnya pada tahun 2019, Tifani dan Ratri memutuskan untuk membuka toko offline untuk memudahkan para pelanggan mereka. Toko offline Vert Terre berlokasi di Purwosari, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman. Di toko offline ini selain berbelanja, para pelanggan juga dapat mengedukasi diri mengenai konsep hidup eco-friendly.

Saat ini, Vert Terre telah menjual berbagai macam barang untuk kebutuhan sehari-hari. Selain sedotan stainless, Vert Terre juga menawarkan berbagai macam kebutuhan harian seperti sampo, sabun mandi, sabun cuci muka, deodorant, body care, sikat gigi kayu, dan sebagainya. Harganya pun cukup tejangkau, dari yang paling murah di kisaran Rp. 5.000, – hingga yang paling mahal seharga Rp. 85.000, -.

Best seller-nya itu produk kecantikan seperti body care, masker muka, lulur, sabun muka, deodorant, dan sabun mandi,” terang Tifani.

Untuk menarik pasarnya yaitu para anak muda dan mahasiswa, Vert Terre melakukan beberapa hal. Selain ragam produk yang ditawarkan, mereka juga membuat konsep toko mereka se-aesthetic mungkin. “Konsep toko kita buat aesthetic supaya menarik anak muda dan mahasiswa untuk datang ke storem apalagi kan sekarag zamannya pada suka foto-foto, terus posting di Instagram,” imbuh Tifani.

Segala aktivitas perbelanjaan di Vert Terre ini juga menggunakan konsep zero waste, untuk meminimalisir limbah bisnis mereka. Semua barang yang ditawarkan Vert Terre bebas pemakaian plastik, artinya tidak ada plastik kemasan. Misalnya untuk membeli sampo, para pembeli diminta untuk membawa wadah sendiri karena dari Vert Terre tidak menyediakan botol plastik. “Pelanggan dapat merefil botol yang mereka bawa dari rumah sendiri,” jelas Tifani lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan dagangannya, Vert Terre bekerja sama dengan produsen lokal yang berada di Yogyakarta dan Magelang. Seperti sabun mandi yang di produksi oleh Inbentala dan Annanovinopx, sampo dari Sedapursalam, sabun cuci dari Sekartaji Pawonstudio, dan lainnya. Tifani mengungkapkan bahwa pihaknya menilai bahwa kualitas produk lokal tersebut tidak kalah bagusnya dari produk non lokal. Selain itu, ia mengakui bahwa produk lokal tersebut lebih ramah lingkungan pada saat proses produksinya.

“Karena kan mereka hanya produsen kecil, bukan produksi masal, jadi sampah yang dihasilkan pasti lebih kecil dari pada sampah pabrik,” katanya.

Selain itu, dengan memanfaatkan produk lokal, diakui Tifani merupakan usaha Vert Terre untuk ikut membangkitkan dan mengembangkan UKM lokal yang ada di masyarakat, sehingga usaha tersebut dapat meningkatkan produksinya.

Walaupun telah berjalan hampir 3 tahun, Tifani dan Ratri masih terus berusaha mengembangkan bisnis mereka. Ia mengakui meskipun Vert Terre sering ikut serta dalam beberapa pameran produk baik dari pemerintah maupun di acara-acara kampus, ia masih belum mendaftarkan toko mereka secara resmi. “Pengen daftarin, tapi tidak tahu gimana caranya, info-infonya juga belum ketemu,” ucap Tifani.

Bisnis ramah lingkungan Vert Terre ini mengantarkan kesenangan tersendiri kepada Tifani. Ia mengakui, selain dalam sisi bisnis, Vert Terre juga ia manfaatkan sebagai media untuk mengajak orang-orang untuk dapat hidup ramah lingkungan. “Bisa dimulai dari yang kecil-kecil dulu, seperti mengajak untuk mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless, kemudian sampai alat mandi juga menggunakan yang ramah lingkungan,” katanya.

Sementara Ratri berharap agar usaha yang Ia rintis bersama Tifani ini dapat terus lebih berkembang untuk kedepannya. “Semoga Vert Terre semakin berkembang dan jadi tempat belajar yang nyaman buat kami sebagai owner dan teman-teman semua termasuk anak muda,” ungkap Ratri. (Hidayatun Nafiah/Ilmu Komunikasi UII, Foto: Vert Terre)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts