Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prambanan mengeluhkan kurangnya sumber daya manusia (SDM) untuk menunjang pelayanan. Padahal, rumah sakit hasil peningkatan status Puskesmas Prambanan 1 pada 2009 lalu tersebut, juga melayani pasien dari luar Kabupaten Sleman. “Saat ini RSUD Sleman memiliki sekitar 200 karyawan. Pegawai kami 55 persen di antaranya bukan pegawai negeri sipil (PNS),” kata Direktur RSUD Prambanan drg Isa Dharmawidjaja MKes, Senin (2/6).
Menurutnya, setiap hari RSUD Prambanan melayani 200 pasien rawat jalan. Tidak hanya dari Kabupaten Sleman, melainkan juga Klaten, Bantul, dan Gunungkidul. Diakuinya, kendala peningkatan kualitas layanan di RSUD Prambanan adalah SDM.
“Untuk pelayanan BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan) juga sebenarnya siap, hanya dukungan SDM yang masih kurang,” kata Isa Dharmawidjaja.
Setiap bangsal, idealnya memiliki 12 tenaga medis dan paramedis. Namun, empat bangsal di RSUD Prambanan masing-masing baru dilayani 10 tenaga. Sebanyak 18 dokter umum dan spesialis yang sudah ada pun dinilai belum mencukupi.
“Kami belum ada dokter spesialis mata. Untuk anastesi juga baru satu, itu pun kita berbagi dengan rumah sakit lain,” tutur Isa.
Kekurangan tenaga juga terjadi pada posisi asisten apoteker. Apotek sudah ideal karena ada tiga orang. Kalau asisten apotekernya belum ideal karena baru ada enam, padahal seharusnya sembilan orang. Untuk menutup kekurangan, sementara ini RSUD Prambanan memberdayakan tenaga siswa SMK jurusan farmasi.
Rekrutmen karyawan di RSUD Prambanan memang harus tetap berdasarkan persetujuan dan remokendasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sleman. “Tetap tergantung lampu hijau BKD, saya boleh menerima berapa,” kata Isa Dharmawijaya.


