Menulis menjadi upayanya memahami sebuah persoalan. Menulis juga merupakan jalan yang ia tempuh untuk memberi pilihan masyarakat agar bisa mengambil keputusan. Shinta Maharani, koresponden Tempo berbagai pengalamannya menulis feature pada komunitas, Kamis (19/7) di Sleman Creative Space.
“Sampaikan gagasan sesimpel mungkin agar publik mudah memahami,” ucap Shinta pada para peserta acara Menulis bareng Tempo ini.
Shinta mengaku, dibandingkan menulis berita jenis hardnews, feature lebih bersifat deskriptif. “Feature kita menulis secara imaginatif tapi tetap merujuk pada fakta tidak boleh lebai dan bohong,” beber Shinta.
Shinta pun menyarankan untuk menggunakan narasumber lebih dari satu dan disertai dengan data yang kuat.
Wanita yang mengcover berbagai isu di wilayah Yogyakarta untuk surat kabar Tempo ini juga menceritakan bahwa beberapa penulis sering terjebak memberi opini pribadi pada tulisan featurenya. “Kalau produk jurnalistik tidak boleh beropini, kita punya garis tegas antara produk jurnalistik atau menulis blog,” tuturnya.
Oleh karena itu, buat Shinta menulis sesuai kode etik sudah menjadi keharusan sebab menyangkut kepentingan publik. “Profesi jurnalis itu diikat oleh kode etik yang jadi rambu-rambu kita untuk bertanggungjawab kepada publik,” urai wanita lulusan jurusan Hubungan Internasional ini.


