Nikmat Asam dan Manisnya Gudeg Salak

Kota Yogyakarta memiliki makanan khas yang akan selalu diingat oleh para wisatawan. Gudeg, makanan berbahan dasar buah nangka muda yang dimasak menggunakan santan dan daun jati hingga berwarna kecokelatan. Banyak wisatawan yang tak pernah melewatkan mencicipi gudeg jenis ini jika berkunjung ke Yogyakarta.

Namun kini, inovasi baru tengah dikembangkan oleh Pawon Pariyem. Ada satu makanan unik yang disajikan rumah makan yang berdiri sejak Juni 2018 ini yaitu Gudeg Salak. Berada di Padukuhan Kadisobo II Trimulyo Sleman, rumah makan hasil bentukan BUMDes ini menyajikan Gudeg yang terbuat dari buah salak.

Menurut Mawardi selaku Kepala Dukuh mengatakan bahwa hal ini terinspirasi dari harga salak yang cenderung turun sehingga adanya Gudeg Salak ini diharapkan dapat menjadi penyelamat bagi populasi salak lokal maupun salak pondoh, jenis salak yang digunakan dalam gudeg buatannya.

“Saya beli salak ke petani harganya Rp 3.000,00, kalau biasanya petani jual ke pedagang Rp 1.500,00, ini keuntungan bagi petani supaya salaknya enggak dibabat,” kata Mawardi, saat ditemui Kamis (11/10).

Pengolahan Gudeg Salak ini menurut Mawardi sama seperti gudeg pada umumnya. Untuk membuat satu porsi gudeg membutuhkan tiga sampai lima biji salak dengan cara direndam selama satu sampai dua jam di air kapur agar menghasilkan tekstur yang kenyal.

“Kalau biasanya gudeg memiliki rasa yang manis, gudeg salak memiliki rasa yang khas yaitu perpaduan antara asam dan manis,” bebernya.

Berkat si unik Gudeg Salak ini, Desa Trimulyo Sleman berhasil mengalahkan 43 desa dalam rangka pengembangan desa wisata di bidang kuliner. Hal ini yang membuat Mawardi bersemangat untuk terus mengembangkan produknya.

“Sekarang bisa bertahan 24 jam, nanti saya mau mengeksplor supaya bisa memproduksi gudeg kering sehingga nanti harapannya bisa dijadikan untuk oleh-oleh” ucap Mawardi.

image_pdfimage_print
Bagikan: