Sleman – Dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi daerah di wilayah kerja kantor perwakilan BI DIY, KP BI DIY telah berperan aktif dalam mengembangkan program pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui pengembangan komoditi/produk/jasa usaha (KPJU) yang memiliki prospek untuk berkembang dan sesuai dengan potensi sumberdaya alam/ lingkungan dan ketrampilan masyarakat di wilayah tersebut.
Bertempat di Kantor BI Perwakilan DIY dilakukan penandatanganan MOU antara BI dan Pemkab Sleman. Dalam sambutannya, Direktur BI Kantor Perwakilan DIY, Arief Budi Santoso menyampaikan, bentuk kegiatan yang dilakukan oleh BI, meliputi bantuan teknis, penguatan kelembagaan, dan bantuan fisik, bank Indonesia bersama-sama dengan stakeholdes di daerah menjalin sinergi dalam upaya meningkatkan produks, kapasitas usaha, nilai tambah ekonomi masyarakat serta meningkatkan profesionalitas kelompok masyarakat dalam menjalankan usahanya.
BI juga telah melakukan upaya nyata di Kabupaten Sleman berupa program pengembangan UMKM dalam rangka mendorong kegiatan UMKM menjadi lebih baik, antara lain program pengembangan klaster kelompok pembudidaya ikan air tawar mina kepis Dusun Burikan, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati Sleman dan fasilitasi pengembangan produk kripik salak pondoh KSU BMT Sejahtera di Kecamatan Turi, Sleman.
Saat ini kedua kelompok usaha tersebut sudah tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, sebagai komitmen kami, untuk menjaga keberlanjutan kerja sama pengembangan UMKM dengan Pemda, khususnya pemkab Sleman, dan BI juga akan melakukan pembinaan terhadap UMKM, yang dalam tahun ini, komoditas yang dipilih menjadi mitra binaan adalah komoditas sapi perah kelompok sedyo mulyo yang berada di Boyong, Pakem, Sleman.
BI berharap agar kerja sama yang dibangun dengan Pemkab Sleman dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaku usaha UMKM dan kedepannya dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga mampu menghasilkan karya yamh nyata, bermanfaat dan memberikan nilai tambah serta daya saing bagi pelaku UMKM khususnya komoditas sapi perah Sleman.
Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang hadir dalam penandatanganan MOU tersebut, menyampaikan bahwa bantuan pengembangan klaster sapi perah ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan penataan lokasi peternakan. Klastering in juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi susu sapi di Kabupaten Sleman.
Berdasarkan data tahun 2013, di Kabupaten Sleman terdapat 751 kelompok tani ternak dan 511 kelompok ternak sapi. Jumlah populasi ternak sapi perah sebanyak 3.614 ekor. Dengan produksi susu sebanyak 3.565,85 ton. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan produksi tahun 2013 yaitu 3.149,54 ton.
Potensi produksi susu dari lereng Merapi tersebut memang menjadi salah satu unggulan dari Kecamatan Pakem. Terlebih lagi produksi susu di Pakem ini langsung dijual kepada konsumen.
“Oleh karena itu, ke depannya, saya berharap masyarakat Sleman dapat membudidayakan ternak sapi dengan lebih optimal. Jika masyarakat dapat memulai budidaya ternak sapi ini sejak awal, mulai dari pembibitan maka peternak sapi perah di Sleman dapat semakin meningkat kesejahteraannya,” kata Sri Purnomo.
Hal ini sangat mendesak dilakukan mengingat di kenyataan di lapangan membuktikan bahwa sangat sulit untuk mencari bibit sapi perah yang berkualitas dan juga harga yang relatif tinggi. Bupati Sleman juga memberikan apresiasi kepada BI atas kegiatan ini, dan berharap agar dikemudian hari kerja sama antara BI dan Pemkab Sleman dapat lebih ditingkatkan.


