Masa Depan GSC dan Budaya Literasi Masyarakat

Ngaglik – Hadi Subronto, selaku Kepala Pemerintahan dan Penanggungjawab Perpustakaan Generasi Sukoharjo Cerdas menegaskan bahwa keberadaan perpustakaan selama 5 tahun terakhir telah menjadi tonggak penting bagi budaya literasi di Sukoharjo, peran strategis yang layak dipertahankan dan terus dikembangkan demi kemajuan warga masyarakat.

“Harapan saya pribadi, sampai kapanpun, perpustakaan ini tetap menjadi oase di tengah semakin menurun nya minat baca,” terangnya ketika ditemui di Balai Desa Sukoharjo, Sabtu (12/1/2019).

Adib Makmun, Kepala Perpustakaan pun melihat dalam dasawarsa terakhir budaya baca tulis mengalami pergeseran dari konvensional menuju media digital.

Kemajuan teknologi saat ini, membuka peluang sekaligus menyediakan tantangan baru bagi GSC untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang ada.

“Selain mempertahankan program yang telah berjalan dengan baik, pelan- pelan kami juga melakukan upaya digitalisasi perpustakaan dengan membangun katalog buku online, membangun website desa dan memperbanyak buku pengetahuan digital,” ujar Adib.

Dituturkan Adib, program wisata pustaka bagi usia PAUD dan SD tetap dipertahankan dengan menu utama pengetahuan membaca, menulis cerita, melukis, mendengarkan dongeng. “Tambahan variasi yang kami rencanakan adalah mencoba beberapa permainan tradisional, outbond dan pemutaran film,” tambahnya.

Selain itu, Adib juga akan mengembangkan program goolbook menjadi mobil perpustakaan keliling, yang tidak hanya akan berisi buku- buku cetak namun juga dilengkapi dengan sarana audio visual. Selain menyasar pelajar di sekolah-sekolah, mobil juga akan berkeliling ketika ada kegiatan posyandu, atau ketika acara lain di kampung- kampung sedang berlangsung.

“Kami sadar, dana operasional besar bukan satu-satunya tantangan berat, diperlukan juga SDM handal yang mengerti seluk beluk dunia literasi sehingga selain berupaya melakukan penggalangan dana, kami juga berusaha mengembangkan kemampuan petugas dengan mengirim mereka ke seminar, pelatihan, studi banding, dan melibatkan mereka dalam forum- forum grup diskusi,” tambah Adib.

Pada akhirnya Adib berharap perpustakaan ini tidak hanya menghasilkan pengunjung dan pengelola temporer tapi juga memberikan kontribusi terhadap lahirnya pendongeng, penulis buku, pembuat film animasi, pelaku dan pemerhati budaya, serta ilmuwan lain di bidangnya masing- masing. (DHI)

image_pdfimage_print
Bagikan: