Sleman – Masyarakat pribumi Sleman merasa nyaman dan pendatang baru sekelas mahasiswa pun merasa terlindungi. Selain itu penduduk pendatang tidak kehilangan adat dan tradisi walaupun saling berdampingan dengan penduduk asli yang memiliki adat, suku, dan agama yang berbeda-beda.
Warga Dusun Jaban, Tridadi, Sleman merasakan kedamaian dengan adat yang turun menurun mereka lestarikan hingga saat ini. Mereka juga merasa ada hal positif yang menguntungkan masyarakat Sleman dengan adanya pendatang baru. Pernyataan tersebut disampaikan Sudiyanto, sesepuh warga Katolik usai menanggapi makna Hari Masyarakat Adat yang jatuh pada Rabu (13/3/19).
Dengan masyarakat yang terdiri dari berbagai agama, Dusun Jaban tetap terkenal dengan identitas adat gotong-royong dari sebelum tahun 1956 hingga kini. Masyarakatnya saling membantu dalam kegiatan apapun tanpa memandang siapapun sehingga tak ada yang merasa dirugikan, tersakiti, maupun terasing dalam bertetangga. Saking pedulinya terhadap tetangga satu sama lain, keberagaman agama dan kegiatan keagamaan masyarakat Jaban pun tidak pernah menjadi sebuah konflik.
Sudiyanto bercerita, solidaritas masyarakat Jaban yang cukup baik ini menginisiasi 3 kegiatan besar masyarakat Jaban, yakni Kenduri. Kenduri masyarakat Jaban berlangsung 3 kali yaitu pada peringatan peristiwa pada dua hari raya, pertama Hari Raya bagi masyarakat Muslim, kedua Hari Raya bagi masyarakat Kristen atau Katolik, dan kemudian pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.
Pada acara kenduri di masing-masing agama tersebut, masyarakat Kristen atau Katolik mengundang masyarakat Muslim dengan acara perjamuan makanan untuk menambah rasa persaudaraan di antara mereka dan begitu sebaliknyayang dilakukan masyarakat Muslim terhadap masyarakat Kristen atau Katolik. Sedangkan pada acara 17 Agustus mereka mengadakan acara bersama yang melibatkan seluruh masyarakat untuk menjadi panitia atau pesertanya.
Ketika ditanya tentang masyarakat luar yang menjadi pendatang di Sleman, Sudiyanto mengatakan bahwa senang menjadi bagian dari pada masyarakat Sleman. Hal ini disebabkan dengan adanya masyarakat yang hadir di Yogyakarta khususnya daerah Sleman maka perekonomian masyarakat terlihat lebih terbantu.
“Karena kebutuhan pendatang di antaranya tempat tinggal seperti indekos dan warung makan semakin bertambah sehingga menjadi lahan pekerjaan baru bagi masyarakat Sleman,” ungkap Sudiyanto, Kamis (14/3/2019) di kediamannya.
Banyaknya masyarakat dari beragam adat yang berkumpul di Sleman menjadikan di Sleman seolah bisa disebut sebagai Indonesia kecil. Yuliana Bunga Kromen, mahasiswa pendatang asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menceritakan pendapatnya. Ia mengatakan meski banyak pendatang di Sleman namun masih banyak masyarakat yang belum dapat menerima mahasiswa Flores berdasarkan pribadi masing-masing.
Masyarakat masih ada yang sepakat untuk memberi label pada pendatang Flores sebagai pendatang yang tak sadar diri dengan seringnya membuat keributan dan tak tahu sopan santun. Namun sejauh ini menurut gadis yang akrab dipanggil Bunga ini, sesungguhnya masyarakat Sleman hanya khawatir adanya keributan di Sleman karena sebagian besar orang Flores adalah mereka yang memiliki kulit hitam dengan badan yang kekar. Di samping itu juga pernah ada suatu trauma yang disebabkan oleh pendatang Flores yang masih melekat pada pikiran masyarakat Sleman.
Bunga menambahkan, dirinya justru merasa sangat nyaman dengan orang asli Sleman yang berada di sekitarnya. Ia mengatakan bahwa masyarakat Sleman terbilang masyarakat yang peduli terhadap sekitar.
“Semua tergantung kepribadiannya masing-masing. Jika orang tersebut mudah dalam beradaptasi maka mudah pula bergaul dengan masyarakat sekitar. Akan tetapi pada umumnya orang Flores bisa berbaur dengan masyarakat asli Sleman namun tidak dalam jangka waktu yang cepat dengan adaptasi karena memang kan adaptasi tidak bisa instan, kecuali orang tersebut memang pribadi yang mudah dalam bergaul,” demikian kata Bunga.
Bunga merasa ia cukup akrab dengan masyarakat Sleman di lingkungan indekosnya. Rasa nyaman tercipta setelah Bunga mengetahui bagaimana kebiasaan tolong-menolong masyarakat sekitarnya. Bahkan rasa nyaman tersebut ia ekspresikan dengan julukan peace, love, and joy (damai, cinta, dan kegembiraan-red).
“Kalau aku sih enggak pernah merasakan pertengkaran sesama orang Sleman. Jadi hidup ku tuh damai aja di sini. Dari situ tentunya aku jadi merasakan cinta dan kegembiraan,” ungkap Bunga. (Rep Rara)


