Melestarikan seni budaya pada era teknologi informasi yang semakin pesat seperti sekarang ini bukan merupakan hal yang mudah. Masyarakat Dusun Jaban menyiasati hal tersebut dengan memasukkan nilai kekinian.
Masyarakat Dusun Jaban yang terkenal dengan kentalnya kerukunan antar warga ternyata memiliki kesukaan yang berbeda terhadap jenis musik, tari, dan kesenian lainnya. Masyarakatnya ada yang masih sangat menyukai budaya dan kesenian tradisional dan ada juga yang tidak. Dilihat dari kedua perbedaan tersebut maka masyarakat Jaban membuat alternatif mengkolaborasikan antara tradisional dan modernnya tari, musik, dan alat yang menjadi seni budaya khas masyarakat Jaban.
Pernyatan tersebut ditunjukkan dari penampilan demi penampilan pada Pentas Seni Budaya “Sanggar Seni Rebung Wirama” yang diadakan pada Sabtu (23/03/19) di Lapangan Voli Jaban, Tridadi, Sleman.
Sejumlah penari menampilkan kesenian tari Thek-Thek, yakni tari yang dimainkan dengan alat kentongan untuk meronda. Thek-Thek merupakan tarian tradisonal dengan lirik lagu berbahasa Jawa yang mereka ciptakan yang dikolaborasikan dengan tarian lain bergaya kontemporer.
Di samping karena hobi masyarakat Jaban yang berbeda-beda, seni budaya yang dikemas seperti ini bertujuan untuk menyeimbangkan karakter generasi muda saat ini. Hal ini disampaikan Kepala Dukuh Dusun Jaban, Iriyanto yang merasa bahwa keterlibatan dan keaktifan masyarakat tua untuk menyeimbangkan dengan yang muda itu sangat penting untuk memajukan seni dan budaya setempat. Walaupun Iriyanto mengakui sejauh ini kerjasama antara pemuda dan golongan tua sudah cukup baik dari segi komunikasi untuk mencapai suatu tujuan.
“Sebenarnya kita mau mengangkat Sanggar Seni Rebung Wirama yang mana dia itu sanggar seni yang bisa dikatakan sangat senior yang sempat vakum lama. Jadi kita mau mengangkat dia supaya bisa reborn dan aktif lagi. Walaupun di setiap 17 Agustus dan event by event kita pasti tampil tapi itu rasanya belum cukup untuk membangun Rebung Wirama lagi. Jadi melalui rapat kemarin kami menyimpulkan kesepakatan dalam rapat besar, dengan acara yang difasilitasi Dinas Kebudayaan Sleman ini kita kasih konsekuensi Rebung Wirama ini harus aktif kembali, paling enggak seminggu sekali harus ada latihan,” cerita Puthut Taufik Pamungkas, Ketua Acara Pentas Seni Budaya. (Rep Rara)


