Tanamkan Pendidikan Kemandirian pada Anak dengan Autis

2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Hampir seluruh negara di penjuru dunia menyimbolkan penerimaan terhadap anak dengan autis atau nama lainnya Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dengan caranya masing-masing. Begitu juga dengan Sekolah Lanjut Autis (SLA) Fredofios, Dabag, Condongcatur, Depok, yang memberikan pelayanan pendidikan kemandirian untuk anak dengan autis.

Agung Tri Yuliyanto, guru SLA Fredofios, ditemui Kamis (4/4/2019) mengatakan, karakter bawaan autis yang tercipta istimewa dengan julukan ‘tukang perekam dan tukang imitasi yang kuat’ menuntut perlu ada pengimbang. Karenanya, pendidikan kemandirian penting bagi kepribadian anak autis.

“Autis sebenarnya tidak membutuhkan terapi dan sebagainya tetapi pendidikan yang tepat dan menanamkan nilai-nilai kemandirian di dalamnya. Berbagai karakter autis dari yang pasif, aktif, hingga hiperaktif membuat cara mendidik untuk mencapai tahap mandiri juga berbeda-beda sesuai dengan karakternya,” ujar Agung.

Selain itu, diungkapkan Agung permasalahan mendidik anak autis bisa timbul dari emosi tidak stabil, perilaku yang bisa membuat anak tersebut susah untuk menangkap apa yang disampaikan oleh guru, sifat moody, perilaku ekstrem yang bisa mengganggu pergaulan dan interaksi, serta perilaku mengkhawatirkan lainnya.

Di samping kesulitan tersebut, ada kemudahan mendidik anak autis, yakni seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa anak autis cepat menangkap pesan yang diberikan oleh lawan interaksinya. Kemudahan ini menurut Agung merupakan hal menguntungkan bagi para guru pendamping.

“Jadi dari kekurangan dan kelebihan tersebut membuat pendidik harus menyesuaikan antara anak yang pasif, aktif, dan hiperaktif dengan pendekatan minat, bakat, serta kasih sayang,” tambahnya.

Agung sendiri menyampaikan di Fredofios anak-anak termasuk dalam kategori anak yang aktif. Terkadang, anak-anak akan keluar kelas saat pelajaran sedang berlangsung dan memberikan gangguan pada lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tiga pendekatan (minat, bakat, kasih saying-red) tersebut harus diimbangi juga dengan rasa pengabdian.

“Harapan ketika menjadi guru anak dengan autis yaitu nantinya anak-anak tersebut bisa mengerjakan apapun secara sendiri terutama keterampilan hidup, baik itu memasak, menyapu, melipat baju, dan mandi. Kemudian bisa menghasilkan suatu karya, apakah itu musik, batik, komputer, desain, keterampilan kayu dan sebagainya,“ harap Agung. (Rep Rara)

image_pdfimage_print
Bagikan: