Suwarni, Reinkarnasi Semangat Belajar Kartini

Kartini menjadi salah satu pahlawan perempuan dalam pendidikan, yang setiap tahun pada tanggal 21 April selalu dikenang. Sementara Suwarni, gadis yang jatuh cinta dengan ilmu menjadi perempuan pertama dari kampungnya yang mampu mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Suwarni seolah mereinkarnasi semangat belajar Raden Ajeng (RA) Kartini.

Ani begitu nama panggilan Suwarni. Gadis 23 tahun ini mewujudkan mimpinya untuk kuliah tanpa bantuan biaya dari orang tua. Ani bermimpi untuk dapat berkuliah sejak masih duduk di  bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keinginannya dianggap sebagai angin lalu oleh keluarganya karena cita-cita Ani untuk dapat mengenyam pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi adalah hal yang mustahil di desanya. Semangat inilah yang dinilai sama dengan yang dimiliki R.A Kartini semasa hidupnya.

Desa Karangwae, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tempat Ani dilahirkan adalah desa yang tak peduli dengan pendidikan. Padahal warga desa tersebut adalah orang-orang yang mayoritas tergolong ekonomi menengah ke atas. Mereka cenderung menyayangkan hartanya jika hanya digunakan sebagai biaya pendidikan anaknya. Jika dihitung dari kalangan perekonomian menengah ke atas, hanya ada sekitar 5 orang yang berpendidikan hingga bangku perkuliahan.

Berbeda dengan keluarga Ani yang termasuk golongan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Dengan melihat kegigihan anaknya dalam belajar, orang tua Ani sadar bahwa pendidikan itu penting bagi kehidupan dan penghidupan. Jadi diperbolehkanlah anaknya untuk merantau ke Yogyakarta demi meraih pendidikan di bangku perkuliahan yang dicita-citakannya.

“Kalau dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, ya cuma aku disusul dengan adekku,” ujar Ani, Senin (22/04/19).

Witianingsih, adik kandung Ani mengakui kegigihan kakaknya dalam belajar. Bahkan setelah melakukan rutinitas membantu orang tua melakukan tugas rumah, Ani justru mampu lebih fokus belajar di sela-sela rasa lelahnya.

“Mbak Ani itu semangat banget, dari dia SMP sampai SMA jarang main selalu di rumah bantu ibu dan bapak untuk nyuci baju, nyapu, bersihin kandang, toplah pokoknya,” ungkap Witia yang kagum terhadap kakaknya.

Witia juga menceritakan bahwa cita-cita kakaknya untuk berkuliah bukanlah tanpa pergunjingan dari orang-orang yang tak suka. Tetangganya sering kali membuat ungkapan yang terselip maksud menjatuhkan.

“Sering orang bilang ‘ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ngulek sambel’ tapi omongan itu nggak terlalu ditanggepin mbak Ani, paling mbak Ani cuma bilang ‘semoga bisa sukses dan dapat pekerjaan yang layak’. Karena menurut mbak Ani yang penting itu pembuktiannya,” jelas Witia.

Ketika SMA, Ani pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Pati dan mendapat peringkat 9 besar berkat motivasi yang ia tanamkan dalam diri. Motivasi yang ia miliki sederhana, Ani ingin menjadi orang yang dihargai dengan ilmu yang dimilikinya dari pendidikan yang ditempuh. Ani tidak ingin menjadi orang bodoh yang diremehkan dengan segala kekurangan pengetahuan.

Setelah OSN tersebut, semakin bertambah keingintahuan Ani dengan ilmu pengetahuan. Usai lulus SMA, dengan segala upaya belajar yang dilakukan Ani, akhirnya Ani diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), salah satu universitas negeri terbaik di Kabupaten Sleman melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Di masa kuliahnya, dengan rasa peduli dan prihatin terhadap kondisi perekonomian keluarganya, Ani menggunakan kesempatan itu untuk kuliah sembari bekerja di warung ayam geprek.

Ketika ditanya alasan lain dibalik kuliah dan menghidupi diri dengan bekerja, tanpa campur tangan uang orang tua, Ani menjawab tak ingin menjadi beban bagi orang tua. Cita-cita Ani setelah ia sukses adalah dapat memenuhi semua kebutuhan orang tuanya, bertamasya bersama, dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama orang tua tanpa harus pusing memikirkan kondisi keuangan. (Rep Rara)

image_pdfimage_print
Bagikan: