Ngaglik – Meningkatnya jumlah penduduk mengakibatkan lahan pertanian semakin sempit sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi pertanian baik secara kualitas maupun kuantitas. Usaha untuk mengoptimalkan potensi lahan persawahan di antaranya adalah budidaya minapadi dengan sistem tanam jajar legowo. Demikian dikatakan Suhardi selaku Kepala UPTD Balai Penyuluhan Pertanian Pangan dan Perikanan (BP-4) wilayah IV Kabupaten Sleman dalam acara Forum Komunikasi Pertanian yang berlangsung di Aula UPTD BP-4 Temon, Pandowohajo, Sleman, Selasa (23/04/2019).
Acara dihadiri kurang lebih 100 peserta yang merupakan perwakilan kelompok tani di wilayah Kecamatan Sleman dan Ngaglik.
Gatot Riyanto selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Bidang Perikanan mengatakan bahwa minapadi adalah budidaya ikan dan padi di satu area sawah. Ia mengungkapkan dengan adanya pemeliharaan ikan di persawahan selain meningkatkan keragaman hasil pertanian berupa padi dan ikan juga dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pestisida kimia, pupuk anorganik dan penyiangan, serta dapat mengurangi hama penyakit pada tanaman padi.
Pada kesempatan tersebut Gatot memaparkan tahap pembuatan minapadi di antaranya pembuatan parit mengelilingi persawahan yang berfungsi sebagai kolam pemeliharaan ikan.
“Pembuatan parit mengelilingi sawah dilakukan pada saat mengolah tanah terakhir atau saat meratakan tanah. Dibuat sekitar 20% dari luas sawah atau kurang lebih 1meter dari pematang dengan kedalaman 25-30cm. Dilapisi mulsa dengan tujuan sebagai tempat penampungan ikan, melindungi ikan saat kekeringan, memudahkan saat panen, sebagai area memberi pakan, dan memudahkan ikan bergerak ke seluruh petakan,” jabar Gatot.
Selanjutnya, ia menjelaskan pemilihan bibit ikan. “Pilih benih ikan unggul yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan tahan terhadap penyakit yaitu pilih bibit yang masih keturunan ke 2 dan induknya bersertifikat,” lanjutnya.
Ia mengungkapkan bahwa jenis ikan yang dianjurkan berwarna gelap. “Nila hitam lebih disukai karena rasanya enak, fisiknya kuat, dan meminimalkan hama burung,” katanya.
Gatot juga menjelaskan penggunaan pakan ikan. Diungkapkannya bahwa pakan bisa menggunakan pakan ikan buatan pabrik dengan jumlah yang lebih efisien karena ikan memakan binatang-binatang kecil, gulma dan bahan2 organik yang berada di dalam kolam.
“Penebaran benih dilakukan 12-14 hari setelah penanaman padi dengan tujuan menghindari obat-obatan atau pupuk kimia yang mungkin diberikan sebelumnya,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut Suharyanto selaku PPL Bidang Pertanian menjelaskan tentang jajar legowo yang merupakan sistem menanam padi dengan cara mengatur jarak tanam yaitu dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong.
“Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan kosong dipindahkan sebagai sisipan di dalam barisan sehingga mampu menampung populasi tanaman lebih banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut diterangkannya tipe jajar legowo yang efektif meningkatkan hasil panen yaitu tipe jajar legowo 2:1 artinya ada 2 baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong.
Jajar legowo, demikian dikatakan Suharyanto, sesungguhnya adalah teknik manipulasi seakan tanaman berada di bagian pinggir.
“Tanaman yang berada di bagian pinggir jauh lebih baik daripada di barisan tengah, baik itu dari segi pertumbuhan maupun tingkat produktivitasnya karena yang berada di pinggir mempunyai ruang tumbuh yang leluasa dan lebih banyak mendapat sinar matahari,” katanya.
Menurtnya, sebagian lahan yang dikurangi untuk baris kosong terbukti tidak mengurangi produktivitas padi sebab keberadaan ikan memakan hama dan gulma pengganggu tanaman, kotoran ikan memberikan pupuk organik untuk tanaman sehingga dihasilkan beras organik yang bebas residu pestisida sintetik dan pupuk kimia, lebih sehat, rasanya enak dan awet tidak lekas basi. (Upik Wahyuni)


