Sleman – Hari Buku Internasional yang bertepatan pada 23 April dirayakan di seluruh dunia. Salah satunya ada Ranti Aprilia Anjarwati, gadis usia 19 tahun yang memiliki hobi membaca buku fisik dan bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi.
Ketika membicarakan tentang minat membaca bukunya Ranti mengatakan tak mau buku punah dari muka bumi. Ia bertekad akan membuat perpustakaan pribadi yang nantinya dapat dinikmati keluarganya setelah menikah. Ranti juga tak mau suatu saat nanti anaknya hanya mendengar cerita atau sejarah dari mulut ke mulut atau bacaan di internet tentang buku fisik namun tak dapat menikmati indahnya membaca buku.
“Karena aku mau memperbaiki generasi-generasiku nanti kalau sudah punya anak. Kalau dari sekarang aku sudah bisa terbiasa dengan buku jadi nanti anakku juga akan terbiasa sama buku juga, apalagi kalau sudah ada perpustakaan pribadi,” ujar Ranti, Kamis (25/04/19).
Ranti adalah gadis yang lahir 19 tahun yang lalu. Berbeda dari 3 saudara lainnya, Ranti memiliki rasa cinta terhadap buku yang melebihi saudara-saudaranya.
Minat membaca buku Ranti tumbuh ketika duduk di kelas 11 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di daerah Tangerang. Buku pertama yang dibacanya adalah novel dengan judul Rindu karangan Tere Liye. Minat membacanya ini semakin tumbuh setelah acap kali membaca tulisan di postingan instagram ustad Aan Chandra Thalib dan terinspirasi quotes, yang berisi motivasi dan ilmu keislaman di dalamnnya.
Pengaruh bacaan yang sering Ranti baca tersebut, ternyata berdampak pada rasa penasarannya terhadap novel-novel. Namun karena masih bersekolah, Ranti belum mampu untuk membeli buku yang diinginkan. Sampai lulus sekolah Ranti membaca buku dari hasil meminjam dari teman-teman Rohis (organisasi kerohanian) yang mayoritas gemar membaca.
Setelah lulus SMK Ranti tidak langsung kuliah dan memutuskan untuk bekerja di bidang kuliner di daerah Sleman, Yogyakarta. Tujuannya bekerja adalah untuk mempersiapkan diri sebelum mantap menentukan minat dalam memilih jurusan. Selama masa bekerja itu, Ranti memberi nutrisi otaknya dengan selalu membaca buku yang kini temanya mulai meluas tidak hanya novel novel, melainkan berbagai jenis buku.
Karena sudah mulai bekerja, Ranti pun mampu untuk membeli buku dan dibelilah buku-buku yang selama ini ia idamkan. Hingga saat ini lebih dari 40 buku yang dimilikinya.
Ranti cenderung suka dengan bacaan yang berbentuk fisik, maka dari itu ia lebih memilih buku daripada harus membaca melalui gawai. Menurutnya membaca dengan menggunakan gawai akan berdampak pada paparan radiasi bila penggunaannya melebihi jangka waktu tertentu. Ranti lebih nyaman menyebut dirinya kutu buku, bukan kutu gawai.
Setiap bulan Ranti menghabiskan uang 250 hingga 400 ribu rupiah untuk belanja buku. Untuk bulan Mei 2019 alokasi itu meningkat, Ranti telah menganggarkan 500 ribu rupiah untuk membeli buku.
Pandangan Ranti tentang anak milenial yang suka membaca maupun mencari referensi via gawai adalah baik. “Dengan gawai orang tidak perlu susah payah membawa buku, namun sebaiknya tetap menggunakan keduanya (gawai dan buku). Karena kalau hanya tetap dan terus menggunakan gawai, maka buku yang punah dari bumi akan benar terjadi,” harap Ranti. (Rep/Rara)


