Ngaglik – Tanaman yang sehat dan kuat dengan produktifitas tinggi tidak terlepas dari fungsi akar sebagai penopang berdirinya tanaman, pencari nutrisi dan air di dalam tanah yang kemudian disalurkan ke seluruh bagian tubuh tanaman. Akar juga menjadi sumber kehidupan karena di sana terjadi pertukaran udara, unsur hara, dekomposisi dan lain sebagainya. Demikian disampaikan Suharyanto, Penyuluh Pertanian Lapangan UPTD Balai Penyuluhan Pertanian Pangan dan Perikanan Wilayah IV Kabupaten Sleman, yang bertindak sebagai pemateri pada Pelatihan Pembuatan Agensia Hayati di Padukuhan Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (2/5/2019).
“Untuk itu agar kondisi perakaran tetap terjaga dan berfungsi dengan baik, salah satunya dengan mengaplikasikan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacter) yaitu mikroorganisme yang hidup berkoloni di sekitar akar tanaman yang mampu mengikat nitrogen (fiksasi), memacu pertumbuhan, meningkatkan ketahanan terhadap jamur dan patogen yang berpotensi merugikan tanaman,” paparnya.
Selanjutnya, ungkap Suharyanto, PGPR juga mampu menyediakan berbagai mineral serta memacu peningkatan hormon yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhannya.
Pada kesempatan tersebut Suharyanto mengungkapkan bahwa membuat PGPR tidaklah sulit, tidak membutuhkan biaya besar karena bahan-bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Hanya dibutuhkan akar bambu lapuk yang belum pernah dipupuk atau disemprot pestisida kimia, kemudian direndam pada air matang dingin selama 2- 4 hari. Rendaman akar bambu ini berfungsi sebagai biang atau indukan bakteri.
Proses selanjutnya adalah merebus 2 liter air cucian beras, terasi 100 gram, kapur sirih, gula pasir 250 gram yang berguna sebagai sumber makanan bakteri. Selanjutnya biang bersama rebusan tadi dimasukkan ke dalam galon yang berisi air matang dingin dan diproses dengan fermentator yang bisa dibuat sendiri.
“Fermentator dibuat dari rangkaian aerator aquarium,3 buah botol bekas dan galon air mineral,” imbuh Suharyanto.
Botol pertama berisi campuran air dan alkohol berfungsi agar udara yang masuk steril bebas dari mikroba yang tidak diinginkan. Botol kedua berisi glasswool untuk menyaring udara dari kotoran dan debu. Selanjutnya selang dimasukkan ke galon yang telah diisi air matang dingin sebanyak 16 liter, biang akar bambu, campuran air cucian beras dan terasi serta gula pasir yang telah diproses sebelumnya. Kemudian botol 4 berisi air biasa sebagai klep agar bila listrik mati tidak terkontaminasi udara luar. Aerator selanjutnya dihidupkan selama proses fermentasi berlangsung kira kira 7 hari.
PGPR diaplikasikan saat perendaman benih sebelum disemai yang berfungsi untuk memisahkan benih yang sehat atau tidak. “Pada benih padi 10 kg dibutuhkan 1 gelas PGPR yang telah dicampur 10 liter air, direndam selama 24 jam. Untuk hortikultura cukup direndam 15 menit sebelum disemai,” lanjut Suharyanto.
PGPR juga bisa disemprotkan pada tanaman dengan cara mencampur 1 gelas PGPR dengan 14 liter air atau dikucurkan langsung pada tanaman hortikultura.
Suharyanto berharap dengan pelatihan ini petani menjadi termotivasi melakukan budidaya pertanian yang baik dan benar agar produktifitas semakin meningkat. Dengan demikian sedikit demi sedikit dapat mengubah pola pikir petani yang semula menggunakan pupuk dan pestisida sintetis beralih ke pertanian organik yang lebih sehat. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)


