Ngaglik – Di tengah derasnya arus modernisasi yang mengalir di semua segi kehidupan, produk-produk fesyen bernuansa tradisional, etnik, dan unik masih mendapatkan tempat di hati para konsumen yang menghargai nilai seni tinggi. Selain karena ramah lingkungan, dengan mengenakannya mereka beranggapan bisa tampil lebih unik, eksklusif, dan elegan.
Peluang itu dirasakan oleh Alfira Oktaviani yang meramaikan dunia fesyen tanah air dengan menghadirkan ecoprint baju, kain, syal, dompet dan yang menjadi andalan adalah tas kulit kayu lantung dengan branding Semilir Ecoprint Artisan.
Dijelaskan Alfira bahwa kulit kayu lantung berasal dari pohon lantung (Artocarpus Altilis), sejenis pohon bergetah yang merupakan pohon endemik di hutan kawasan Sumatera termasuk Bengkulu. Untuk mendapatkan lembaran kulit kayu, pengrajin menggunakan teknik tempa dengan menggunakan peralatan tradisional dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendapatkan kulit kayu ukuran 1×1 meter.
Berawal dari buah tangan berupa sebuah tas kulit lantung polos dari sang ayah yang asli Bengkulu, Alfira terinspirasi untuk memberikan inovasi pada bahan tersebut. “Saat itu tas kulit kayu lantung masih polos dengan model sederhana padahal kulit lantung termasuk serat alami yang sangat bagus bila diberi sentuhan Ecoprint,” kata Alfira saat ditemui di rumahnya kawasan Perumahan Griya Asri Pratama Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (15/05/2019). Kulit kayu lantung menurutnya bisa dijadikan berbagai produk karena mempunyai tekstur dan motif yang unik, seratnya bagus dan permukaan yang halus.
Setelah berburu bahan, Alfira kemudian mengolah kulit kayu lantung tersebut menjadi ecoprint. Dia memaparkan pada dasarnya proses ecoprint kulit kayu lantung sama saja dengan serat alami yang lain, meliputi mordanting atau perendaman untuk membuka pori-pori bahan, setelah itu dalam keadaan setengah basah dibentangkan dan diberi motif atau diwarnai dengan menata dedaunan yang telah dipilih, kemudian digulung pada batang kayu, diikat kencang agaf posisi tidak bergeser lalu dikukus. Proses selanjutnya fiksasi agar warna terkunci dan tidak luntur baru dijemur sampai kering.
“Setelah tahap ini kulit kayu lantung baru bisa diolah menjadi tas atau produk yang lain sesuai desain yang diinginkan,” tutur Elfira yg memulai usaha sejak 2018. Alfira menambahkan dengan mengolah warna, desain, motif,dan tekstur permukaan berarti telah memberi nilai tambah kulit kayu lantung sehingga terkesan lebih berkelas dan memberi nilai estetis yang tinggi.
Dari bahan baku kulit kayu lantung ukuran 1×1 meter seharga 40-50 ribu, bila dijadikan tas polos akan berharga 150 rb, tetapi bila ditambahkan inovasi ecoprint dan diberi branding harganya bisa mencapai 800rb untuk per buah.
“Barang dengan motif dan bahan tradisional sekarang tidak lagi terlihat kuno. Dengan inovasi produk yang dihasilkan terlihat eksklusif dan terkesan kekinian. Tidak heran permintaan produk seperti tas ecoprint kulit kayu lantung meningkat dari waktu ke waktu baik di pasar dalam maupun luar negeri,” lanjut Alfira. Melihat pangsa pasar yg masih terbuka lebar, Semilir Ecoprint Artisan bersemangat mengembangkan dan melestarikan kulit kayu lantung yang pada tahun 2015 diangkat menjadi warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kemendikbud tersebut agar pesona dan keberadaannya tetap terjaga kini dan nanti. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)


