Sungkeman dan Ketupat, Tradisi Lebaran Kaya Makna

Ngaglik – Tak hanya kekayaan alam yang melimpah, Indonesia juga dihiasi oleh kekayaan tradisi dan budaya yang unik dan tidak dimiliki negara lain. Bukan sekedar simbol, tradisi tersebut ternyata penuh makna yang mengajarkan tentang kebaikan. Contohnya adalah sungkeman dan ketupat,  tradisi yang senantiasa mewarnai perayaan Idul Fitri atau Lebaran.

Sungkeman dari kata sungkem yang secara teknis dilakukam dengan bersimpuh  posisi yang muda lebih rendah dari yang tua kemudian mencium tangan kepada orang yg lebih tua. Dengan gestur merendah kepada yang lebih tua, sungkeman memiliki makna baik antara lain sebagai bentuk penghormatan, sebagai sarana melatih kerendahan hati, sopan santun serta menghilangkan sifat egois.

Sungkeman di hari raya Idul Fitri dilakukan sebagai wujud rasa sesal dan permintaan maaf atas segala dosa salah dan khilaf yang pernah dilakukan baik sengaja maupun tidak disengaja. Silaturahim yang terkoyak karena sakit hati diharapkan akan terjalin lagi lewat tradisi ini.

Selain itu dengan sungkeman, anak diajak dan diingatkan kembali agar senantiasa hormat dan berbuat baik kepada orang yang lebih tua terutama ayah dan ibunya.

Winarni, kepala sekolah RA Nabila yang beralamat di Padukuhan Sompilan Desa Donoharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman mengatakan bahwa sebagai lembaga pendidikan Islam, RA Nabila berupaya memperkenalkan tradisi tersebut pada anak didik. “Dengan mengenalkan makna tradisi warisan leluhur seperti sungkeman tersebut kepada anak-anak, akan menanamkan nilai nilai kebaikan yang akan selalu diingat sampai mereka dewasa kelak,” ujar Winarni saat pengenalan sungkem dan janur kepada murid RA Nabila, Rabu (29/5/2019).

Selain sungkeman, pada kesempatan tersebut anak dilatih membuat ketupat yang terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda. Di Indonesia, Idulfitri juga identik dengan ketupat.

Winarni menjelaskan ketupat diyakini berasal dari kata ngaku lepat yang artinya mengaku salah. Yang muda menyampaikan lepat (salah) demikian juga yang lebih tua akan ikhlas dan rela memberi maaf kepada yang lebih muda jika terjadi kesalahan.

Bungkus yang terbuat dari janur merupakan kepanjangan dari “sejatine nur” (cahaya) yang melambangkan kondisi  manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama Ramadhan.

Sedangkan bentuk segi empat mencerminkan prinsip ‘kiblat papat lima pancer’ yang diartikan empat macam nafsu manusia yaitu amarah, yakni nafsu emisional, aluamah atau nafsu memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan mutmainah yaitu nafsu  untuk memaksakan diri kepada pihak lain.

“Keempat nafsu inilah yang ditaklukkan selama berpuasa Ramadhan,” kata Winarni.

Rumitnya anyaman ketupat melambangkan berbagai macan kesalahan manusia sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kesucian setelah mohon ampun dari segala kesalahan. Adapun beras sebagai isi ketupat sebagai simbol kemakmuran dan aneka hidangan bersantan yang menyertai ketupat dimaknai ‘pangapunten’ atau mohon maaf dari segala macam kesalahan sehingga pada saat Idul Fitri manusia akan kembali suci. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)

image_pdfimage_print
Bagikan: