Sleman – Kecintaan pada lingkungan dan kemampuan membuat kerajinan batu membuat Maryoto (45 tahun) mampu menghasilkan sebuah produk istimewa yaitu, bak sampah organik yang artistik terbuat dari batu putih. Tidak heran, karena Maryoto sang pengrajin batu ini dulu pernah menjadi perintis sebuah bank sampah organik.
Ayah dari tiga anak ini berpandangan bahwa melarang orang untuk tidak buang sampah sembarangan saja belum cukup, tetapi juga harus mau memfasilitasi.
“Mengapa bikin pengompos organik, karena saya melihat sampah organik belum terkelola, dan juga sebagai seorang perintis maka saya berusaha sebisa saya untuk memberikan fasilitasi kepada warga,” aku Maryoto di studionya di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Selasa (16/7/2019).
Yang istimewa, bak sampah organik buatan Maryoto ini berfungsi sekaligus sebagai pengompos. Di bak sampah berukuran 60×60 cm dan tinggi 120 cm, sampah organik dimasukkan lewat pintu atas, lalu hasilnya berupa pupuk kompos dipanen dari pintu bawah samping, tidak perlu membongkar bak sampah yang seluruhnya terbuat dari batu putih ini.

Bagian bawah bak sampah organik ini langsung tersambung dengan tanah. Untuk memanen hasilnya, diperlukan waktu 1,5 bulan sampai 2 bulan untuk sampah sayur, makanan dan buah, dan 3 bulan untuk sampah dedaunan. Untuk mengatasi bau selama sampah diproses, Maryoto menggunakan cairan dari buah pisang buatannya sendiri yang disebutnya mikro organisme lokal.
Untuk produksi, Maryoto membutuhkan waktu 4 hari untuk bak sampah organik berukuran sedang dan 5-6 hari untuk yang berukuran besar. Sebuah bak sampah berukuran 60 cm dengan tinggi 120 cm dijualnya seharga Rp1,2 juta.
Bak sampah organik ini menurut Maryoto akan terlihat artistik.
“Saya desain yang elegan, kalau dipasang di depan rumah tidak akan memalukan,” tutupnya.

Bak sampah organik karya Maryoto pun terpasang di sebelas titik sekeliling kampung, satu di Kantor Kecamatan Berbah, dan satu lagu di Dusun Jasem, kampung sebelah.Selain bak sampah organik, Maryoto juga mengerjakan pesanan berupa relief, hiasan air mancur, pot, kaligrafi, dan patung. Untuk bahan, Maryoto menggunakan batu putih dari Wonosari, Gunung Kidul yang disebutnya lebih ulet, dan kalau dibuat ukiran gambarnya terlihat lebih hidup.


