Sleman – Bekerja selama 11 tahun membuat aksesoris logam di perusahaan asal Korea Selatan, Sugeng Prawoto memberanikan diri membuka usaha di bidang yang sama.
Kini, dengan ilmu dan teknologi yang dibawanya, usaha Sugeng mampu memproduksi 1000 buah aksesoris perhari dan menjadi pemasok utama produk kerajinan logam seperti medali, bros, souvenir pernikahan, emblem, dan barang-barang kebutuhan instansi.

Dibantu 11 karyawan yang semuanya adalah tetangga sekitar, Sugeng mengerjakan segala proses pembuatan aksesori logam untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mulai dari desain, pengecoran logam, pewarnaan, sampai pengemasan.
Bahan bakunya adalah timah Bangka, yang didapatnya justru dari Semarang. Sugeng mengaku belum mampu mendapatkan bahan baku timah langsung dari Pulau Bangka.
Berdiri sejak tahun 2007, bukan berarti usaha Sugeng tanpa pesaing. Tiongkok disebutnya sebagai pesaing terberat saat ini.
“Tiongkok itu sebenarnya cuma sistemnya (yang lebih maju), bahannya sama. Menurut saya mereka punya semacam intelijen market, yang bisa mengetahui tren pasar di dunia lalu mereka meniru produknya,” ujar Sugeng saat ditemui di studionya di Kampung Noyokerten, Padukuhan Petungrejo, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Selasa (16/7/2019).
Sugeng mengaku tidak pernah takut dengan persaingan menghadapi raksasa industri dunia itu. Caranya, Sugeng mengambil langkah agar juga tidak ketinggalan tren. Untuk desain produk, Sugeng saat ini bekerjasama dengan perguruan tinggi.
Untuk pemasaran, Sugeng rajin mengikuti pameran yang beberapa di antaranya difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Sugeng mengaku tidak menjual produknya secara langsung, tapi ia menjadi pemasok untuk toko-toko aksesoris.

“Sekarang yang sedang ramai pesanan itu medali lomba lari, sedangkan kalau aksesoris itu kontinyu (selalu ada pesanan),” pungkas Sugeng,


