Ngaglik – Desa wisata disebut sebagai konsep jitu untuk mengurangi laju urbanisasi. Pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di bidang wisata pertanian menjadi hal penting untuk mencegah mereka meninggalkan desa untuk bekerja di kota.
“Selama ini petani di sini adalah generasi sepuh, sedangkan yang muda lebih suka bekerja di kota menjadi pegawai atau karyawan karena mereka beranggapan menjadi petani secara finansial tidak menjanjikan. Dengan dikemas menjadi wisata diharapkan generasi muda menjadi tertarik kembali menggeluti bidang yang sebelumnya dianggap tidak bergengsi tersebut,” ungkap Ricky Wachid Syam, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minapadi saat ditemui di Padukuhan Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Rabu (17/07/2019).
Memiliki sumber air yang melimpah dari Kali Boyong, Widoro dan Trasi di sebelah barat dusun, warga Padukuhan Samberembe mengupayakan lahan seluas 3 hektar menjadi kawasan pertanian sekaligus wisata. Dengan mengandalkan budidaya mina padi, ugandi (udang galah bersama padi), kolam ikan air tawar, budidaya berbagai macam hortikultura, dan pasar ikan, padukuhan ini pun siap menjadi desa wisata berbasis pertanian.
Beberapa program sudah disiapkan untuk mendukung di desa wisata ini, antara lain acara budaya seperti wiwit, kenduren, jathilan. Kemudian ada wisata kuliner dengan menu makanan desa dan untuk itu ada kursus singkat membuat kudapan khas seperti klepon, cucur, apem, meniran, aneka olahan nila, dan srabi.
Selain itu, Ricky dan kawan-kawan menyiapkan berbagai macam kerajinan janur, batik, kertas, penginapan, penjualan hasil pertanian dan joglo tempat pertemuan yang bisa menampung 100 orang serta wahana rekreasi dan edukasi.
Khusus untuk pertanian minapadi, ada budidaya ikan nila merah yang dipadu dengan padi menthik wangi, ciherang, padi sembada merah, dan silabu sembada hitam. Selain itu juga diperkenalkan sistem budidaya ikan nila dengan sentuhan kincir air. Kemudian masih ada budidaya ikan dengan cabai dan ketimun dan budidaya udang galah dengan padi yang diharapkan menarik keingintahuan pengunjung.
Untuk produk yang bisa dibawa pulang pengunjung, ada pasar ikan di sini buka setiap hari dan menampung hasil ikan dari berbagai wilayah. Berbagai budidaya hortikultura seperti aneka cabai, semangka, melon, timun, buncis, kacang panjang, terong, tomat, gambas, pare, labu air, labu botol, labu golden mama dan jagung pun bisa dijumpai di tempat ini.
Disebut Ricky, konsep desa wisata pertanian seperti di Samberembe ini menekankan pada kerjasama antara petani, pokdarwis, dan pemerintah. “Kami berharap pemerintah berperan mendorong program agar berjalan lancar, memberikan modal, dan penyuluhan pertanian dan perikanan yang memberikan pengarahan cara meningkatkan produktifitas produk pertanian,” ungkap pria yang perpengalaman sebagai penyelenggara acara ini.
Setelah dijadikan sebagai lahan percontohan pada acara Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan beberapa waktu lalu, kini Samberembe siap menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Sleman. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)



