Menata Masa Depan di Huntap Dongkelsari, Hunian Warga Terdampak Erupsi Gunungapi Merapi

Padukuhan Srodokan-Gungan adalah sebuah kampung yang bergeser 3 kilometer jauhnya akibat erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Bergeser bukan dalam arti harfiah, melainkan karena warga kampung ini pindah serentak di wilayah baru yang lebih aman bernama hunian tetap (huntap) Dongkelsari.

Mereka pindah dengan membawa serta status dalam identitas kependudukan. Nama kampung tetap sama, Srodokan-Gungan, status alamat warga secara administrasi juga tetap. “Kalau ada warga dulunya masuk RT 01, di tempat baru ini juga tetap sama,” papar Totok Hartanto, Dukuh Srodokan-Gungan saat menemui delegasi Kota Kagoshima, Jepang, di pendopo huntap Dongkelsari, Padukuhan Srodokan-Gungan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu (31/7/2019).

Menurut Totok, tak terbayang kerepotan kalau semua warga harus mengubah status kependudukan mereka. Sedangkan saat itu kondisi warga masih belum pulih pasca bencana erupsi.

Hunian tetap Dongkelsari adalah pemukiman relokasi dari korban bencana erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Warga yang tinggal disini semuanya berasal dari Padukuhan Srodokan-Gungan, nama kampung lama mereka di tepi Kali Gendol yang tersapu rata oleh pasir dan batu saat erupsi besar 5 November 2010.

Dulu tiap KK mendapatkan bantuan Rp30 juta dalam bentuk rumah sederhana. Bentuk asli rumah sederhana ini bisa dilihat di museum dokumenter kebencanaan yang ada di huntap ini. Museum ini adalah bangunan rumah huntap yang masih asli, temboknya batako yang belum diplester dan berlantai tanah.

Di dalam museum ini ada banyak foto berukuran A4 yang menggambarkan suasana pasca erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Selain itu juga ada peta kawasan Rawan Bencana, perkakas dapur yang penuh abu vulkanik, dan bangkai sepeda motor yang hangus terbakar. Menilik informasi yang terpasang di dinding, museum ini tadinya adalah rumah milik Eko Febrianto yang merelakan rumahnya dijadikan museum. Bangunannya sengaja tidak diubah sebagai pengingat kondisi awal rumah saat diberikan pemerintah dulu.

Windar, seorang ibu rumah tangga bercerita sejarahnya menghuni huntap ini. Windar sudah mengungsi mulai 4 November sebelum erupsi. Setelah itu ia berpindah-pindah pengungsian, bahkan sampai ke Piyungan, Kabupaten Bantul.

Windar juga merasakan mendiami hunian sementara (huntara), bangunan non permanen yang terbuat dari anyaman bambu, sampai mulai April 2013 ia mulai menempati huntap yang dibangun di atas lahan huntara itu.

“Sempat kesusahan juga selama menunggu huntap itu, harus mengungsi lagi,” aku Windar. Bekas rumahnya di pemukiman lama sekarang untuk kebun yang ditanami tanaman keras dan singkong. Untuk mata pencaharian, sekarang Windar berdagang. Adapun profesi warga lainnya ada yang tetap menjadi petani, dan penambang pasir.

Kalau ada kendala di huntap, maka itu adalah ukuran lahan. Di huntap ini mereka mendapatkan tanah seluas 100 meter persegi sebagai lahan tempat tinggal, sedangkan di pemukiman lama umumnya warga memiliki lahan yang luas yang cukup untuk berkebun sekaligus beternak.

“Yang jadi kendala, kalau mau beternak sapi tidak ada lahannya. Lahan yang lama terlalu jauh dan tidak aman (karena tidak ditunggui),” aku Windar. Meski ada perbedaan karena dulu tinggal di tanah yang luas dan sekarang tanah lebih sempit, Windar mengaku lama-lama bisa menerima dan menyesuaikan diri.

Masalah keterbatasan lahan ini dibenarkan Dukuh Srodokan-Gungan, Totok Hartanto. “Itu masalah yang sampai sekarang belum ketemu solusinya. Keluarga terus berkembang karena anak-anak menikah, tapi lahan tempat tinggal terbatas. Sekarang ini bahkan sudah ada rumah yang dihuni 3 KK,” ujar Totok. Ini menjadi pelik karena mereka tidak diperbolehkan menghuni kembali kampung lama mereka karena termasuk Kawasan Rawan Bencana III.

Secara sosial kemasyarakatan, Totok menyatakan tidak ada perbedaan berarti. “Disini aman, walaupun kita pindah tapi penulisan alamat tetap, status kependudukan tetap, hubungan sosial juga tetap sama,” kata Totok. Selain itu, menyangkut kesiapsiagaan bencana, setelah erupsi 2010 masyarakat sekarang lebih siap siaga dan sadar karena punya pengalaman pernah menghadapi bencana erupsi.

Huntap Dongkelsari berada di tanah yang berbukit, saat ini sudah dilengkapi dengan rumah ibadah, sekolah, sarana air bersih, sanitasi, petunjuk jalur evakuasi, dan balai pertemuan. Di sebelah baratnya mengalir sungai berair jernih dan sawah berterasiring yang apik.

Saat ini huntap Dongkelsari didiami 160 KK yang menempati 147 rumah. Huntap Dongkelsari hanyalah salah satu dari 11 huntap yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sleman. Sekarang warga di huntap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, pelan-pelan menata ekonomi dan menata pemukiman mereka sekarang yang akan diturunkan kepada anak cucu mereka kelak.

image_pdfimage_print
Bagikan: