Tidak bisa dimungkiri saat ini kita berada di era 4.0 yang penuh dengan gelontoran informasi yang hampir setiap saat dijejalkan kepada kita melalui gadget yang kita miliki.
Gun Gun Siswandi, Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa menyatakan bahwa era digital 4.0 adalah kegiatan yang berbasis digital serta full information.
“Sadar atau tidak telah terjadi perubahan paradigma yang menggiring kita menjadikan informasi sebagai kebutuhan pokok setelah sandang, pangan dan papan. Perubahan ini terjadi secara riil dalam kehidupan kita, fenomena ojek pangkalan versus ojek online, bisnis manual versus bisnis online adalah realita yang tidak bisa kita hindari,” terang Gun, saat mengisi Dialog Kebangsaan bertema “Merajut Kebhinekaan dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri” yang dihelat oleh Kementerian Kominfo dan DPR RI pada Minggu (4/8/2019) di Tara Hotel.
Teknologi Informasi sendiri kata Gun juga bisa bermakna positif maupun negatif, tinggal bagaimana menyikapinya.
Gun menyampaikan, sebuah survei APJII tahun 2018 menyebutkan bahwa sebanyak 171,17 juta jiwa masyarakat Indonesia atau 64,8% dari keseluruhan populasi nasional sebesar 264,16 juta jiwa telah terhubung dengan internet.
“Penggunaannya sebagian besar didominasi untuk bersosial media, seperti Facebook sebesar 50%, Instagram 17,8 % dan Youtube 15%, artinya bahwa arus informasi sedemikian masif dan bisa diakses dengan gadget yang ada di dalam genggaman,” tambahnya.
Di sisi lainnya, tantangan industri 4.0 menghadapi kendala berupa adaptasi yang belum optimal, daya saing rendah, SDM yang lemah, serta infrastruktur yang belum merata. “Hal ini harus dijawab dengan literasi digital, teknologi dan manusia dengan harapannya memperoleh nilai positif yang sebesar-besarnya dalam menghadapi keniscayaan serbuan industri 4.0 ini,” ujar Gun.
Akan tetapi, masyarakat perlu waspada dengan era digital. Hanafi Rais salah satu pembicara mengingatkan perlunya diet gadget agar tidak terjadi kecanduan yang bisa mengakibatkan dampak budaya asosial yaitu kecenderungan asyik dengan gadget dan dunianya sendiri.
“Solusinya adalah dengan melakukan diet gadget, semisal dengan persetujuan seluruh anggota keluarga untuk tidak bergadget ria selama berkumpul bersama keluarga misal dari jam tertentu dan anak-anak juga diajak dan dianjurkan untuk melakukan kegiatan yang bersifat fisik yang menarik sehingga lambat laun akan mengurangi kecanduan gadget,” urainya.
Masalah lain yang mengemuka dalam gelombang industri 4.0 ini adalah mengenai privasi data pribadi yang sangat rentan untuk disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak berhak untuk keuntungan pribadi maupun corporate.
Nazarudin selaku pemerhati sosial menekankan bahwa di era medsos sekarang ini publik bisa berperan aktif untuk sharing dan memproduk informasi melalui gadgetnya dan tidak hanya pasif menjadi konsumen informasi dari media mainstream.
“Ibaratnya bisa membuat koran sendiri. Bahkan di era informasi ini bisa melahirkan revolusi sosial melalui perubahan yang digemakan melalui medsos,” ujar Nazarudin. (Arief Hartanto)


