G2R Tetraprenuer Angkat Potensi Desa Tampil di Pasar Global

Ngaglik – Gotong-royong merupakan kepribadian bangsa yang telah berakar kuat dan menjadi ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat sukarela dimaksudkan agar kegiatan berjalan lancar, mudah, dan lebih ringan. Di samping itu dengan perilaku gotong-rotong maka hubungan persaudaraan atau silaturahmi akan semakin erat. Nilai dan sikap gotong-royong inilah yang mendasari G2R (Global Gotong-Royong) Tetraprenuer dalam memotivasi dan meningkatkan semangat seluruh elemen masyarakat desa untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar dengan cara menggali dan mengerahkan potensi desa melalui kegiatan wirausaha yang membawa kearifan lokal tersebut tembus ke kancah dunia.

Demikian dikatakan Profesor Rika Fatimah inisiator sekaligus tenaga ahli G2R Tetraprenuer yang juga guru besar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dalam acara yang digelar oleh Pemdes Donoharjo dengan tajuk Pembinaan Pelaku UMKM dalam meningkatkan Potensi Desa untuk Kesejahteraan Bersama, Selasa (6/8/2019).

“Keseharian gotong-royong di masyarakat selama ini baru sebatas kegiatan sosial. Nilai luhur yang tercipta dari gotong-royong antara lain sikap tolong-menolong, tanpa pamrih, mengedepankan kepentingan orang banyak, bersatu dalam perbedaan, bijak dalam mengambil keputusan bersama, saling peduli dan menyayangi sesama serta nilai-nilai luhur yang lain harus juga diterapkan dalam kegiatan ekonomi di desa,” kata Prof Rika.

Di hadapan para pelaku UMKM, Karang Taruna, Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), Pengurus BUMDes, PKK, LPMD, tokoh masyarakat Prof Rika Fatimah mengatakan bahwa G2R Tetraprenuer merupakan konsep pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi yang mentransformasikan gotong-royong di bidang ekonomi. Oleh karena itu, untuk menggali potensi desa diperlukan dukungan dari semua elemen masyarakat yang meliputi Pemdes, lembaga desa, pelaku usaha, dan juga masyarakat luas sehingga akan tercipta produk unggulan yang akan menjadi ikon desa di bawah pendelolaan BUMDes yang dimiliki oleh masing-masing desa.

Berkaitan dengan hal tersebut, Prof Rika memperkenalkan konsep atau model G2R Tetraprenuer yang merupakan gerakan inovasi desa berbasis 4 pilar wirausaha yaitu rantai wirausaha (tetra 1) yang menentukan produk unggulan desa. Produk tidak sebatas barang yang dihasilkan dari wirausahawan seperti makanan, craft atau produk pertanian, wisata serta fasiltas pendukungnya seperti kuliner, souvenir, kerajinan tetapi juga bisa berupa jasa atau bahkan BUMDes itu sendiri.

“Apabila berwujud barang maka bahan baku dan proses produksi 80% harus berada di desa setempat sehingga akan memberikan lapangan pekerjaaan yang lebih banyak. Selanjutnya produk akan dilelola oleh korporasi desa melalui satu pintu yaitu BUMDes,” ungkap Pendiri Yayasan Global Thoyiban Academy tersebut.

Fase tetra ke-2 disebut pasar wirausaha yaitu mempersiapakan produk potensial desa agar kualitas sesuai dengan segmentasi dan standar pasar yang dituju.

Fase tetra ke-3 yaitu kualitas wirausaha, dalam fase ini diharapkan dapat mengakselerasi tidak hanya kualitas produk tetapi juga kualitas sumber daya manusia di desa sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi sesuai dengan kebutuhan pasar terutama pasar global.

“Sejauh ini sudah ada kemitraan dan komitmen dengan Yayasan Silaturahmi dan Sosial Cendekia (S2C) dalam hal penyediaan pasar berbasis tanpa kompetisi, pengembangan produk, pendampingan dan kerjasama kemitraan lainnya” tutur prof Rika.

Fase tetra 4 yaitu merek wirausaha apabila telah tercipta produk desa maka pengemasan sangat diperlukan untuk menyasar ke berbagai lapisan masyarakat yang sesuai dengan karakter pasar yg dituju. Untuk barang setiap produk direncanakan mempunyai 4 jenis kemasan yaitu ritel, reguler, souvenir, dan premium.

Rika mengatakan branding dan packaging sangat penting agar produk yang dihasilkan tidak terkesan biasa biasa saja tetapi terkesan lebih mewah dan elegan sehingga bisa diterima pasar baik dalam maupun luar negeri.

Anang Patri Widyantoro, Sekretaris Desa Donoharjo menyambut positif G2R Tetraprenuer sebagai salah satu upaya kreatif mengawinkan budaya gotong-royong dan kewirausahaan sebagai potensi desa agar mampu mempercepat perkembangan ekonomi menuju masyarakat yang sejahtera. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)

image_pdfimage_print
Bagikan: