Pemahaman akar kesejarahan salah satunya bisa dibangun dengan mempelajari sejarah melalui museum. Museum merupakan jendela untuk melihat sejenak ke lorong waktu sejarah tentang apa yang telah dimiliki oleh nenek moyang kita. Upaya ini bisa dilihat dari kegiatan Gelar Potensi Museum tahun 2019 pada tanggal 7-10 Agustus 2019. Bertemakan “Merangkai Artefak Keindonesiaan”, Dinas Kebudayaan DIY menampilkan perjalanan singkat Yogyakarta hingga menjadi bagian dari Indonesia.
Wismarini, Kepala Seksi Permuseuman Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY menandaskan tahun ini 37 museum berpartisipasi dengan berbagai koleksi ikonik tentang perjalanan Keindonesiaan.
“Agenda kali ini menghadirkan 37 museum di DIY yang tergabung dalam Asosiasi Museum Barahmus sebagai upaya untuk semakin mendekatkan dan mengakrabkan peran museum kepada masyarakat,” ujar Wismarini.
Event ini dipusatkan di Kabupaten Sleman dengan mengadakan pameran di Sleman City Hall (SCH).
Salah seorang pengunjung pameran, Harjito Sangaji menyampaikan bahwa salah satu koleksi yang menarik adalah perlengkapan perang yang digunakan oleh para prajurit Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda.
“Tameng, keris, dan bandil yang mampu menghancurkan penjajah, namun yang terutama adalah spirit ghiroh perjuangan yang didasari tauhid dan iman yang lurus untuk membela kebenaran menjadi kunci kemenangan perjuangan suci,” katanya.
Di sela pameran diadakan pementasan seni budaya seperti hadroh, gamelan anak, dan berbagai kesenian yang menambah semarak agenda pameran museum kali ini. (Arief Hartanto)


