Ngaglik – Dalam mensukseskan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2019 Puskesmas Ngaglik 2 berhasil memberikan imunisasi pada 1646 anak yang berasal dari 32 sekolah SDN/SDIT/MI dan SLB yang berada di wilayah Desa Donoharjo, Sariharjo, dan Sukoharjo pada bulan Agustus lalu. Cakupan keberhasilannya 95 persen dari total siswa yang terdaftar sebagai sasaran imunisasi.
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) adalah imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar yang dilaksanakan pada bulan Agustus dan November. Untuk pelaksanaan bulan November mendatang, Puskesmas Ngaglik 2 menargetkan capaian yang lebih baik.
“Pemerintah menargetkan cakupan 98% keberhasilan. Memang telah disadari bahwa keberhasilan tidak mungkin 100 persen karena berbagai macam alasan gangguan kesehatan misalnya batuk pilek atau demam. Pada kasus ini anak bisa menyusul imunisasi di Puskesmas bila sakit sudah sembuh. Kemudian kendala yang lain adalah gangguan imunosupresif yaitu penyakit yang berhubungan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan kendala terbanyak adalah justru penolakan dengan alasan bertentangan dengan agama yang dianutnya,” jelas dr. Trisni Nur Andayani, saat ditemui di Puskesmas Ngaglik 2, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (23/9/2019).
Kepala Puskesmas Ngaglik 2 ini membeberkan bahwa penolakan yang datang justru dari orangtua murid. Alasan yang dikemukakan di antaranya adalah vaksin adalah tidak halal dan adanya pemahaman bahwa si anak sudah diberikan kekebalan sejak lahir.
Terkait penolakan-penolakan ini, Puskesmas Ngaglik 2 terus melakukan pendekatan dan sosialisasi dengan memberikan pemahaman tentang manfaat imunisasi dan meluruskan kesalahan informasi yang selama ini beredar di masyarakat.
Program BIAS yang dicanangkan Kementerian Kesehatan dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 dengan pemberian imunisasi campak yang menyasar kepada siswa siswi kelas 1, dan imunisasi Td (Tetanus diptery) diberikan kepada siswa siswi kelas 5.
Sedangkan pada bulan November mendatang akan diberikan vaksin DT (Diptery Tetanus) untuk putra-putri kelas 1 dan imunisasi Td (Tetanus Diptery) untuk kelas 2 serta imunisasi HPV (Human Papiloma Virus) untuk mencegah kanker serviks diberikan kepada murid perempuan kelas 5 yang nantinya akan diulang setahun kemudian atau saat anak kelas 6.
Imunisasi yang dilakukan pada program BIAS adalah imunisasi lanjutan atau ulangan karena imunisasi yang diberikan saat bayi belum cukup untuk melindungi terhadap penyakit campak, dan Tetanus Diptery sampai anak usia sekolah. “Hal ini disebabkan sejak anak masuk usia sekolah dasar atau umur 6-7 tahun terjadi penurunan tingkat kekebalan,” terang dr. Trisni.
Menurut dr. Trisni, untuk menunjang keberhasilan program imunisasi diperlukan sosialisasi dan pendekatan intensif kepada masyarakat dan orang tua siswa yang belum sepaham dengan program imunisasi sehingga diperlukan sinergitas antara pemangku kepentingan seperti Dinas Pendidikan, Kemenag, Pemimpin Ormas Islam, UPT Pendidikan Kecamatan, Ketua Yayasan, dan Kepala Lembaga Pendidikan.
“Perlu penekanan oleh dinas terkait, bila ada yang ingin mendirikan sekolah atau lembaga pendidikan harus mentaati semua program pemerintah termasuk program imunisasi ini, dan dari pihak sekolah harus juga menekankan kepada orang tua calon siswa untuk senantiasa mentaati dan berkomitmen untuk mengikuti program sekolah yang sudah disepakati dan ditetapkan,” pungkas dr Trisni.(KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)


