Moyudan – Berangkat dari keresahannya di hari tua, Didik (57) mulai menekuni kerajinan kain lurik sejak 2007. Kain lurik merupakan warisan dari nenek moyang yang telah turun–menurun menjadi sumber mata pencaharian warga Padukuhan Pakelan, Desa Sumberrarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman ini.
Berbekal alat tenun gendongan, Didik pun memulai dengan membuat kain lurik jenis setagen. Setagen adalah kain panjang yang menjadi pelengkap pakaian tradisional perempuan Jawa. Berfungsi sebagai sabuk, kain ini dililitkan di pinggang setelah mengenakan bawahan kain panjang. Kemudian barulah mengenakan pakaian bagian atas seperti kebaya.
Dari 300 meter bahan, Didik membuat berbagai ukuran setagen mulai dari ukuran 4 meter sampai yang terpanjang 10 meter. Setagen-setagen ini dijualnya dengan harga Rp17 ribu – Rp35 ribu tergantung kualitas dan ukuran.
Tak puas dengan produksi stagen, mulai tahun 2012 Didik lalu mulai mengembangkan pembuatan pakaian jadi berupa surjan berbahan lurik sedangkan pembuatan kain luriknya sendiri menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Baju tradisional Jawa ini dijualnya dengan harga Rp180ribu. Saat ini surjan buatan Didik sudah dijual ke berbagai wilayah seperti Jakarta, Bogor, Malang, dan Yogyakarta. Penjualannya meningkat pada Hari Lebaran, Didik mampu menjual hingga 300–400 kodi.
Sebagai wiraswasta, Didik sudah paham kendala-kendala dalam menjalankan bisnisnya. Misalnya, dia selalu mengalami kesulitan produksi jika harga bahan naik. “Sedangkan ongkos produksi tidak bisa naik (karena akan berimbas ke kenaikan harga jual produk). Antisipasinya dengan memperbanyak stok bahan,” ujar Didik saat dihubungi MC Sleman, Senin (29/9/2019).
Selain kenaikan harga bahan, penjualan yang tidak menentu pun tak jarang dialaminya. Untuk penjualan ini, Didik menyiasatinya dengan rajin mengenalkan produknya melalui pameran. Memanfaatkan perkembangan teknologi, saat ini Didik juga menjual produknya secara daring.
Tak hanya hasil produksinya, proses menenun kain menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin di kediaman Didik sendiri kini juga menjadi tujuan wisatawan yang ingin menyaksikan proses penenunan menggunakan alat tradisional ini.


