Pengelolaan Sampah yang Benar Dimulai dari Rumah Tangga

Ngaglik – Hulu dari persoalan sampah ada pada rumah tangga. Berdasar survei Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional)  tahun 2014, cara rumah tangga memperlakukan sampah untuk di pedesaan mayoritas dengan membakar, dan di perkotaan dengan menyerahkan kepada petugas sampah.

Shely dari komunitas Zero Waste, suatu komunitas yang bergerak dalam upaya mengurangi sampah menghimbau masyarakat untuk mencegah, memilah, dan mengolah sampah. “Cegah dengan tidak menggunakan barang yang berpotensi menjadi sampah, pilah sesuai jenisnya, dan olah menjadi kompos atau serahkan kepada lembaga pengolah,” ujar Shely saat mengisi workshop Wujudkan Lingkungan Permukiman Sehat dan Bebas dari Sampah di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (17/11/2019).

Shely juga menghimbau kepada setiap rumah tangga untuk memakai barang yang ada, meminjam, menukar, baru kemudian alternatif untuk membeli. Selain itu Shely juga mengajak untuk menolak pemakaian tisu, sedotan, sterofoam, dan bahan lain yang sulit terurai.

Mengajak warga mengelola sampah dengan benar memerlukan motivator karena tidak semua orang mau melakukan perubahan, meskipun banyak pula orang-orang yang memiliki potensi sebagai penggerak dan sebagai aktor perubahan. Aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang berbasis komunitas akan selalu membutuhkan gerakan bersama untuk mewujudkan perubahan. Melalui kader penggerak masyarakat, Pemerintah Desa Donoharjo pun rajin mendorong warga agar mengelola sampah yang benar.

Endar, salah seorang kader penggerak masyarakat Padukuhan Penen pada kesempatan yang sama menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan dalam mendorong masyarakat agar mengelola sampah.  “Secara garis besar ada tiga hal yang sudah kami lakukan. Pertama, pengelolaan kebersihan dengan menjaga kebersihan secara individual masing-masing rumah dan pekarangan, pemeriksaan jentik nyamuk oleh pemuda bekerja sama dengan puskesmas dan melakukan kegiatan Jumat bersih, dan bersama-sama melakukan kebersihan kampung meliputi kebun kosong, jalan, dan fasilitas umum,” ujar Endar.

Hal kedua adalah melakukan pengelolaan sampah dimana setiap keluarga melakukan pemilahan sampah sejak dalam rumah tangga. Sampah anorganik dikelola bank sampah, dan sampah organik dikelola dengan pembuatan kompos rumah tangga dengan metode Takakura.

Dan yang terakhir adalah penghijauan.  “Disepakati oleh warga, bahwa pengelompokan dan pendirian rumah bibit untuk tanaman buah di RT 1, tanaman hias di RT 2, tanaman obat keluarga di RT 3, dan tanaman sayuran di RT 4,” ujar Endar.

Menyampaikan materi pengelolaan lingkungan berbasis komunitas, Endar berharap kegiatan yang sudah mereka rintis bisa menjadi inspirasi untuk diterapkan di wilayah lain dengan hasil yang jauh lebih baik daripada di Padukuhan Penen.(KIM Ngaglik/Endarwati)

image_pdfimage_print
Bagikan: