Dalam rangka menyiapkan relawan penanggulangan bencana yang responsif dan tepat saat bencana erupsi Gunung Merapi pada era adaptasi baru, identifikasi peran dan kebutuhan relawan penanggulangan bencana saat darurat, serta koordinasi untuk dukungan rencana operasi darurat maka Jagabaya Kademangan Demakidjo menyelenggarakan kegiatan bertajuk ‘Sonjo kekandhangan Manajemen Darurat Untuk Respon Erupsi Gunung Merapi’ yang digelar di Pendapa Kekandhangan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Minggu (2/8/2020).
Kegiatan sonjo kali ini menghadirkan Peneliti dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Indra Baskoro Adi dengan paparan materinya tentang manajemen darurat dan rencana kontingensi erupsi gunungapi merapi yang diikuti oleh 35 relawan kebencanaan dari berbagai komunitas diantaranya Rescue Banyuraden, Sigap 1011 Somodaran, GSS Geplakan, Tim Reaksi Cepat Kecamatan Sleman, SAR Daerah Istimewa Yogyakarta, Rescue Magelang, serta KIM Pararta Guna Kecamatan Gamping.
Acara yang dipandu oleh Isya Rahma ini dibuka oleh Penasehat Jagabaya kademangan Demakidjo, Nurcahyo menyampaikan bahwa kegiatan sarasehan manajemen darurat merupakan rangkaian kegiatan sonjo kekandhangan yang sudah dilaksanakan sebelumnya yakni workshop Snake Awareness, dan sarasehan peran relawan dalam penanggulangan bencana saat kondisi pandemi dalam menyikapi kondisi gunung merapi saat ini.
Dalam paparannya, Indra Baskoro Adi menyampaikan bahwa pengertian darurat adalah situasi dimana terjadi gangguan yang berpengaruh atas kehidupan dan kestabilan di masyarakat. Gangguan bisa berupa bencana, konflik, atau gangguan lainnya dimana masyarakat lokal tidak mampu mengatasi sendiri kondisi tersebut sehingga dibutuhkan penanganan yang segera, tepat, besar-besaran, dan menggunakan cara yang tidak biasa.
Selanjutnya, pria yang juga sebagai fasilitator Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini menjelaskan tentang tujuan adanya manajemen kedaruratan antara lain mengurangi beban masyarakat, mengurangi jumlah korban, stabilisasi kondisi korban atau pengungsi, mengamankan aset masyarakat, memulihkan fasilitas kunci, mencegah kerusakan lebih jauh, menyediakan dasar penanganan pasca darurat, serta mempersiapkan siapa berbuat apa, dimana, dan kapan dilaksanakan.
“Sebagai relawan kita harus memahami tentang status atau level gunungapi. Secara keseluruhan status gunungapi terbagi menjadi empat yaitu Normal (level 1), Waspada (level 2), Siaga (level 3), dan Awas (level 4). Total ada empat tingkatan status yang masing-masing menandakan kondisi dan aktivitas vulkaniksebuah gunungapi,” tegas Indra di hadapan para relawan.
Pria yang merupakan warga Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem yang terletak 5 km dari puncak Gunung Merapi ini menambahkan bahwa dengan adanya pemahaman level gunung api akan mempermudah dalam memutuskan rencana tindakan yang akan dilakukan antara lain siaga darurat, tanggap darurat, atau transisi darurat terhadap lokasi terdampak bencana erupsi, serta mengetahui tingkat risiko bencana gunung api terhadap keselamatan jiwa di daerah terdampak. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)


