Donoharjo Bersiap Jadi Desa Penyangga Bencana

Status Merapi yang akhir-akhir ini meningkat menjadikan semua pihak harus waspada dan melakukan antisipasi apabila terjadi bencana. Hal tersebut yang tengah dilakukan Pemerintah Kalurahan Donoharjo bersama Destana Donoharjo pada Minggu (8/11/2020) di Area Parkir Desa Donoharjo.

Dalam sambutannya, Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko menyampaikan bahwa meski pandemi Covid-19 belum selesai, sebagai desa penyangga, maka Donoharjo dituntut secara kemanusiaan dan prosedur untuk bersiap-siap menghadapi semua kemungkinan mengingat status Merapi yang mulai meningkat.

“Tentang apa yang harus dipersiapkan, Destana dan Relawan yang lebih paham. Jadi mulai hari ini, kita akan bersiap-siap dengan segala keterbatasan yang ada karena semua terkonsentrasi di penanganan Covid sehingga anggaran sangat terbatas,” ujarnya.

Namun demikian, Lurah Desa Donoharjo tersebut tetap optimis karena Destana dan Relawan Donoharjo sudah teruji dalam menghadapi berbagai situasi.

“Apa yang dilakukan Destana dan para Relawan Donoharjo itu sudah tidak rasional lagi karena sama sekali tidak seimbang antara apa yang diberikan dengan apa yang didapat. Namun segala tindakan yang muncul dari panggilan jiwa memang seringkali menjadi tidak rasional. Karena hal tersebut merupakan realisasi dari keluhuran budi yang semoga mendapatkan balasan yang jauh lebih tinggi dari Allah SWT,” jelas Hadi Rintoko lagi.

Sementara itu Agus Hardio Pancoro, Ketua Destana menyampaikan tentang hal- hal yang perlu dipersiapkan yakni barak dan personil karena ada beberapa hal yang harus ditangani.

Mengacu persiapan tahun 2010 maka barak yang dipersiapkan adalah Lapangan Kalurahan Donoharjo, joglo tanjung, rumah warga di Donolayan dan di Bakalan.

Adapun personil yang dipersiapkan adalah petugas pendataan yang dikelola oleh Sri Hardono dibantu relawan dan Forum Anak Donoharjo, petugas Dapur Umum dikelola oleh Sartini dibantu anggota PKK Donoharjo dan petugas evakuasi dikelola Agus HP dibantu Destana dan Relawan.

Khusus tentang petugas evakuasi, Hendi menjelaskan bahwa menjadi petugas evakuasi harus merupakan panggilan jiwa, memiliki keberanian dan keterampilan, serta alat keamanan pribadi. Perlengkapan keamanan pribadi yang dimaksudkan di antaranya memiliki sepatu standar pengamanan minimal dari kulit, senter, masker, kacamata, sarung tangan kulit, helm dan dompet yang berisi peralatan evakuasi, seperti obeng, pisau, gunting, dan tang (Endarwati/KIM Donoharjo).

image_pdfimage_print
Bagikan: