Di pos gabungan ini terdapat banyak komponen dan keterwakilan dengan berbagai kemampuan. Mari gunakan cara pandang bahwa kegiatan ini tidak semata sebagai tugas, wahana berkumpul dan mobilisasi, tapi manfaatkan sebagai sebagai sarana untuk saling sharing dan meningkatkan kapasitas diri. Demikian pesan yang disampaikan Yoga, Ketua FKKRS (Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman) dalam acara rapat evaluasi Posko Gabungan Merapi 2020 Donoharjo, Sabtu (28/11/2020) di Aula Balai Kalurahan Donoharjo.
Hadir dalam acara evaluasi tersebut sukarelawan yang tergabung dalam Komunitas Lowo, Rajawali, Destana, Relado, dan Konco Breaker Donoharjo.
Agus sebagai Ketua Rajawali dan Ketua Destana menyampaikan evaluasi piket yang sejak berdiri terbilang cukup lancar meski harus diatur segala sesuatunya dengan keluarga masing-masing.
“Intinya, harus ada sedikit perubahan. Untuk teman-teman yang ada pekerjaan siang, usahakan ada jadwal di malam hari. Karena berharap posko tidak sepi jika ada yang datang misal untuk mendapatkan informasi update kondisi Merapi. Juga sebagai bentuk tanggungjawab tentang informasi terkini kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Sementara itu, Bento, Ketua Relawan Lowo mengatakan bahwa kita tidak tahu kapan Merapi erupsi, namun karena sudah membuat posgab, maka perlu mencoba membuat skenario penyelamatan.
Skenario yang pertama, dituturkan Bento ada tim yang akan berkoordinasi tentang pergeseran pengungsi. Kedua akan ada gabungan relawan lain yang akan menempati shelter kita.
“Satu dua relawan akan ada yang membantu atau singgah di posgab,” ujarnya.
Ketiga, pada status awas radius km 10 harus disterilkan minimal untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Dalam hal ini akan dibutuhkan sebuah tim operasi lapangan.
“Kita harapkan malam ini bisa dibentuk tim serbaguna untuk pengungsi maupun evakuasi akibat wedus gembel maupun erupsi. Satu tim 25 orang dulu, ada dalam satu komando. Di pos sudah ada ambulans, dua pick up yang membuka jalan menggunakan roda dua. Ada satu motor trail dari Mbah Lotung yang akan ada di posisi depan dan akan datang satu motor trail lagi. 25 orang tersebut siap dengan status awas,” imbuhnya.
Adapun Destana tambah Bento membantu koordinasi dengan pemerintah, masyarakat dan juga pengungsi.
“Ada empat SD yang harus dipersiapkan. Sedangkan untuk rescue dibutuhkan relawan dengan kemampuan khusus,” jelas Bento lagi.
Yoga menambahkan bahwa akan dipersiapkan skenario penanganan sampai ke skenario terburuk, seperti saat tengah malam, hujan deras, listrik mati di mana hal tersebut akan menjadi kajian tersendiri dari BMKG. Pun, akan dikaji pula dalam membuat perencanaan bagi Tim, apakah Erupsi Merapi bersifat explosif, abu vulkanik, atau disertai hujan.
Yoga juga menjelaskan bahwa untuk pos utama di Pakem sudah ada 40 komunitas yang menyatakan siap membantu sementara komunitas dari luar masih ditahan, belum diizinkan masuk. (Endarwati/KIM Donoharjo)


