Bangun Akses Kemandirian Difabel dengan Kredit Simpan Pinjam

Bertempat di Teras Kantor Kalurahan Sinduharjo, pada Minggu (7/2/21) diselenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kredit Simpat Pinjam Bank Difabel. Acara tersebut dilakukan di teras kantor kalurahan agar memudahkan akses para anggota KSP. Setiap anggota termasuk pemakai kendaraan roda tiga dapat langsung naik ke teras dan dilayani tanpa harus turun dari motor.

Kuni, Ketua KSP Bank Difabel menyebutkan bahwa sehubungan dengan masa pandemi, maka RAT dilaksanakan secara singkat dengan menerapkan protokol kesehatan. Setiap peserta bisa langsung datang, tanda tangan dan pulang. Selain harus jaga jarak, memakai masker, dan menggunakan handsanitiser, setiap anggota juga harus membawa bolpoint sendiri.

KSP Bank Difabel Sendiri menurutk Kuni mengadakan pertemuan setiap Minggu Legi dengan jumlah anggota sebanyak 73 yang berasal dari 9 kecamatan di Kabupaten Sleman. “Ada juga anggota yang berasal dari Bantul dan Kulonprogo,” jelas Kuni.

Pada kesempatan tersebut, Kuni juga memaparkan kondisi keuangan dari KSP Bank Difabel.

“Kini KSP Bank Difabel memiliki aset sejumlah Rp 293.294.157 yang terdiri dari Kas Rp 25.259.000, di Bank Rp 34.765.257 dan berada di pinjaman anggota sebesar Rp 227.629.000,” terangnya.

Menurut penjelasan Kuni, modal KSP Bank Difabel berasal dari simpanan pokok sebesar Rp 12.440.000. Sementara untuk modal hibah atau sumbangan tanpa syarat bersumber dari beberapa orang, antara lain dari Pak Martin dari Australia, Pak Cholid Mahmud anggota DPR RI dan MMBP DIY dengan total sumbangan sebesar Rp 156.746.890.

“Adapun laba tahun 2020 sebesar Rp 24.015.875 atau turun 7% dari SHU tahun 2019”, tambah Kuni lagi.

KSP Bank Difabel sendiri dibina dan didampingi relawan dari MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Ahmad Ma’ruf, salah satu relawan pembina dari MPM Muhammadiyah menerangkan bahwa MPM Muhammadiyah selalu berusaha memberikan support kepada masyarakat penyandang disabilitas. Ia mengibaratkan support yang diberikan oleh MPM Muhammadiyah dalam bentuk ‘kail’, bukan bentuk ‘ikan’. Menurutnya hal tersebut nantinya dapat mendorong organisasi maupun pribadi untuk tumbuh berkembang dengan mendapatkan akses permodalan, jaringan pemasaran maupun pengembangan spiritualitas.

“Misalnya mengadakan pengajian, MPM sering mengundang dalam pengajian namun sudah satu tahun off karena pandemi,” jelas Ma’ruf.

Ma’aruf juga menceritakan mengenai kendala yang dihadapi sebagai relawan di KSP Bank Difabel ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini masih minim SDM pendamping.

“Karena seluruh pembina dan pendamping adalah relawan murni yang bergerak semata-mata atas nama kemanusiaan,” imbuhnya

Terakhir, Ma’ruf berharap kegiatan pendampingan ini dapat terus berjalan agar hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi.

“Agar teman-teman difabel bisa menjadi subjek, maka partisipasi merupakan prasyarat. Posisi pembina, pendamping, maupun fasilitator adalah relawan agar mereka dapat menolong dirinya sendiri,” tutup Ma’ruf. (Endarwati/KIM Donoharjo)

image_pdfimage_print
Bagikan: