Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Hal tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan sosialisasi kepada Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Kabupaten Sleman. Harapannya, sosialisasi tersebut dapat dijadikan sumber informasi dan bahan diskusi di masyarakat oleh KIM.
Sosialisasi PHBS tersebut dihadiri oleh 60 orang dari KIM se-Sleman di Aula lantai 3 Sekretariat Daerah (Setda) Kantor Bupati Sleman, Senin (26/4/2021). Turut hadir Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sleman, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Kesehatan Sosial dan Tenaga Kerja Sleman, serta narasumber dari Director Muhammadiyah Steps dan Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.
Pada kesempatan tersebut, Kasubbag Kesehatan Sosial dan Tenaga Kerja Sleman, Agairul menjelaskan maksud sosialisasi ini guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan menghindari penyakit.
“Tujuan kegiatan ini yang pertama adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemampuan, dan kemauan masyarakat agar bersama melakukan cara-cara sehat dalam rangka mencegah, memelihara pola hidup dan lingkungan sehat baik di rumah maupun masyarakat. Yang kedua mampu menjaga dan mengurangi jangkauan penyakit dan masalah Kesehatan lain,” jelasnya.
Adanya PHBS ini penting, sebab perilaku hidup sehari-hari yang buruk dapat menjadi faktor peningkatan risiko terjangkit penyakit tidak menular.
Director Muhammadiyah Steps yang juga Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sutantri mengungkapkan bahwa jumlah kematian akibat penyakit tidak menular semakin bertambah, terdapat 26 dari 100 total kasus.
“Penyebab kematian tertinggi di Indonesia tahun 2019 disebabkan stroke, jantung, diabetes, sirosis, tuberkolosis, paru kronik, dan diare akibat perilaku buruh seperti tekanan darah tinggi, pola makan salah, dan tembakau atau rokok,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa di DIY angka kematian akibat rokok menempati posisi kedua secara nasional dengan jumlah 128 kasus.
Selain berisiko menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan diabetes, perokok konvensional maupun elektrik ternyata lebih beresiko menderita atau tertular COVID-19 karena merusak saluran pernafasan. “Perokok lebih berisiko 14 kali terinfeksi Covid dibanding bukan perokok. Penderita Covid yang merokok juga 2,4 kali lebih berpotensi masuk kategori berat,” tambah Sutantri.
Kesadaran perilaku sehat dalam pola makan, aktivitas fisik, dan tidak merokok menjadi indikator menentukan derajat kesehatan.
“Makan buah sayur harusnya 5 porsi, 3 porsi sayur 2 porsi buah atau sebaliknya. Selama puasa, buah dapat dijadikan cemilan saat malam, buka, dan sahur. Aktivitas fisik sebisa mungkin diterapkan sesuai FITT (frekuensi, intensitas, time, tipe). Frekuensinya 4 sampai 7 kali perminggu dengan intensitas menegah atau sedang. Tipenya boleh jogging, walking, cycling dengan waktunya 30-60 menit,” tutur Notowati Dwi Vitasari, selaku Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Dinkes Sleman.
Sebagai upaya peningkatan PHBS dan pengurangan risiko penyakit, Notowati menghimbau adanya pencegahan dan pengendalian melalui cek kesehatan secara rutin, rajin aktivitas fisik, istirahat yang cukup, dan mengelola stress. “Cek berkala untuk mengukur tekanan darah, gula dara, indeks masa tubuh, lingkar perut, dan pengadaan kawasan bebas rokok,” imbau Notowati. Tak lupa, ia juga menekankan agar tetap menerapkan perilaku Cita Mas Jajar (cuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan jaga jarak). (Rep Afiqa)


