Uni Eropa dan Humanity & Inclusion (HI) Berdayakan Kelompok Rentan di Masa Pandemi

Ngaglik – Meskipun terjadi pandemi Covid 19, namun kelompok rentan masyarakat yang terdiri dari kaum difabel, kelompok PRSE (perempuan rawan sosial ekonomi), KUBE (kelompok usaha bersama), serta masyarakat miskin diharapkan masih tetap bisa diberdayakan sehingga mereka bisa bangkit dan berkarya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Upaya untuk memberdayakan kelompok rentan ini salah satunya dengan Pelatihan Bisnis Online yang diadakan oleh proyek I AM SAFE yang dilaksanakan oleh HI (Humanity and Inclusion) bekerjasama dengan SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) di Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (6/5/2021). Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dana dari Uni Eropa.

Pelatihan ini dilakukan di dua tempat sekaligus. Untuk peserta di Aula Kapanewon Ngaglik diikuti oleh 40 peserta difabel yang tergabung dalam KSP (kelompok simpan pinjam) difabel yang memiliki kelompok usaha bersama (KUB) maupun USEP (usaha sosial ekonomi produktif). Sedangkan peserta pelatihan di Aula Kalurahan Sardonoharjo diikuti oleh sekitar 40 peserta dari Kelompok Penerima PKH (program keluarga harapan).

Kuni Fatonah dari Sigab (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan agar peserta mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan menilai kelayakan ide usaha secara terencana sesuai dengan potensi yang tersedia. “Harapannya peserta memiliki keterampilan untuk merencanakan dan mengelola keuangan usaha dan agar peserta memiliki gambaran untuk menyusun rencana pemasaran usaha baik online maupun offline,” kata Kuni.

Sementara itu Danti Wulan Manunggal dari HI (Humanity and Inclusion) menjelaskan bahwa HI menggandeng Sigap untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan di antaranya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat kelompok rentan ini. Adapun untuk teknis pelaksanaannya dalam hal data calon pemanfaat, narasumber, maupun hal teknis lainnya HI bekerja sama dengan pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial. Untuk program yang lain bisa bekerjasama dengan Dinas Kesehatan maupun instansi yang lain.

Menurut perempuan yang biasa dipanggil Mbak Danti tersebut, pelatihan bisnis online ini diselenggarakan di tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kotamadya Yogyakarta, dan Kabupaten Gunungkidul, masing masing kabupaten berjumlah 400 peserta di tahap pertama. Untuk selanjutnya akan disaring peserta menjadi 80 peserta, dilatih selama 5 hari berturut-turut sambil dilakukan pendampingan, selanjutnya disaring menjadi 40 peserta dan terakhir menjadi 20 peserta.

“Dengan pelatihan bertahap dan materi berupa teori maupun praktek dan pendampingan, diharapkan hasilnya akan lebih optimal,” tandas Mbak Danti. (Endarwati/ KIM Donoharjo)

image_pdfimage_print
Bagikan: