Kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman Alami Lonjakan di Bulan Juni

Sleman – Kasus COVID-19 di wilayah Kabupaten Sleman terus mengalami kenaikan. Lonjakan jumlah kasus COVID-19 di Sleman pada bulan Juni 2021 mencapai 5.587 kasus positif. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah kasus pada pada bulan Januari 2021 yaitu sekitar 3.000 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring menjelaskan bahwa lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi pada bulan Juni 2021 ini melenceng dari prediksi yang telah diperkirakan.

“Ini (lonjakan kasus COVID-19) diprediksi sama seperti yang terjadi pada sebelumnya yaitu puncak kasus COVID-19 pada bulan Januari 2021 dengan jumlah kasus sekitar 3.000 kasus. Antisipasi telah dipersiapkan dari mulai penambahan fasilitas penanganan COVID-19 di Rumah Sakit dan lainnya sesuai rekomendasi pusat. Namun kenyataanya, lonjakkan kasus di bulan Juni ini lebih tinggi dari bulan Januari bahkan hampir dua kali lipat,” jelasnya dalam jumpa pers yang dilakukan secara daring via Aplikasi Zoom Meeting, Senin (28/6/2021).

Joko menuturkan, penyebab adanya lonjakan kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman seperti ini telah diprediksi sebelumnya, yaitu pengaruh adanya libur lebaran selama 5 hari. Joko menilai pada libur lebaran atau cuti bersama tersebut, sebagian masyarakat memanfaatkannya untuk bepergian dan tidak diam di rumah. Hal tersebut menurut Joko menjadi salah satu penyebab melonjaknya kasus positif di Sleman.

“Penyebab lain dari adanya lonjakan ini pada kenyataannya aktivitas masyarakat tidak menurun bahkan cenderung meningkat. Semua aktivitas tersebut akan sangat berkaitan dengan peningkatan kasus COVID-19,” ujar Joko.

Di samping itu, lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi ini juga sangat berpengaruh kepada sejumlah Rumah Sakit yang berada di wilayah Kabupaten Sleman yang menangani kasus COVID-19.

Direktur RSUD Sleman, Cahya Purnama menuturkan bahwa kapasitas ruang penanganan bagi kasus COVID-19 telah terisi hingga 95 persen. Bahkan, RSUD Sleman sempat menutup layanan IGD bagi penanganan COVID-19 dikarenakan kapasitas yang terbatas akibat adanya lonjakan tersebut.

“Dikarenakan keterbatasan kapasitas, layanan IGD bagi penanganan Covid-19 sempat ditutup. Namun untuk pelayanan poli dan lainnya masih dibuka,” jelasnya.

Cahya mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya untuk melakukan penambahan kapasitas bagi layanan COVID-19.

“Kami akan upayakan (penambahan kapasitas), rencana akan membuka satu bangsal untuk penanganan COVID-19. Namun tentunya hal tersebut tidak mudah karena harus dipertimbangkan untuk SDM-nya,” ungkap Cahya.

Lonjakan kasus COVID-19 ini menurut Cahya juga berpengaruh kepada pemenuhan kebutuhan oksigen. Dalam kondisi normal, RSUD Sleman menghabiskan 40 tabung oksigen setiap harinya. Saat ini, kebutuhan tabung oksigen di RSUD Sleman mencapai 90 sampai 100 tabung per-harinya.

“Saat ini kebutuhan oksigen dipenuhi dari hari ke hari. Artinya setiap hari kami mencari untuk ketersediaan oksigen di RSUD Sleman. Secara umum ketersediaan masih mencukupi,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Direktur RSUD Prambanan, Isa Dharmawidjaja yang turut serta sebagai narasumber dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring.

Dalam kesempatan tersebut, Isa menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan peggunaan oksigen di RSUD Prambanan, pihaknya memakai dua sampai tiga vendor penyedia untuk mengisi ketersediaan oksigen.

Isa menyebut secara umum ketersediaan oksigen di RSUD Prambanan masih mencukupi untuk satu minggu ke depan. Sementara untuk kapasitas penanganan COVID-19, Isa mengungkapkan bahwa kapasitas ruang di RSUD Prambanan bagi penanganan COVID-19 telah terisi 100 persen.

“Adanya lonjakan kasus Covid-19 cukup membuat kondisi di RSUD Prambanan ramai (permintaan penanganan COVID-19). Sehingga kami mengalami kendala keterbatasan tempat,” katanya.

Adanya lonjakan COVID-19 diakui Isa mengharuskan pihaknya menerapkan strategi lain. Isa menuturkan adanya perubahan fungsi dari beberapa ruangan di RSUD Prambanan yaitu ruang IGD non-COVID19 menjadi ruang isolasi COVID-19. Sementara ruang poli dirubah menjadi IGD penanganan Covid-19. Adapun IGD non-COVID19 dipindah ke dalam tenda yang disiapkan terpisah dari lokasi penanganan COVID-19.

Sementara itu Ketua PERSI (Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indoneisa) DIY dr. Darwinto, SP.B (onk) yang juga menjadi narasumber dalam jumpa pers ini mengemukakan pentingnya shelter isolasi mandiri di setiap Kalurahan, sebagai langkah untuk mengatasi meningkatnya angka positif COVID-19.

“Pendirian shelter dapat dilakukan secara gotong-royong masyarakat, karenq gotong-royong merupakan budaya bangsa kita yang masih dijunjung tinggi sampai saat ini. Ini tanggung jawab bersama perlu kepedulian bersama dan kesadaran yang tinggi untuk mengatasinya,” ujar Darwinto.

image_pdfimage_print
Bagikan: