Sleman – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno mengatakan sejak beberapa tahun lalu wilayah Kecamatan Prambanan memang menjadi daerah yang dampak kekeringannya paling parah setiap musim kemarau.
“Untuk membantu mengatasi kekeringan musim kemarau ini warga yang belum terjangkau tiga sistem jaringan air bersih di Prambanan, diminta memanfaatkan dam dan sumur-sumur dalam yang telah dibangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” kata Sapto kepada wartawan di Sleman, Senin (22/9).
Dikatakan Sapto musim kemarau diperkirakan masih terjadi dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Di Prambanan lanjutnya ada dam pengendali di Dawangsari, Sambirejo. Volume airnya mencapai 20.000 meter kubik dan bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Diperkirakan, airnya masih cukup sampai selesai musim kemarau nanti,” tutur Sapto.
Dibenarkan Sapto bahwa saat ini telah terjadi penurunan debit air, terlebih di Prambanan. Karena itu silahkan memanfaatkan dan mengelola sumur dalam yang sudah ada. Ada sebanyak delapan sumur dalam telah dibangun di Prambanan untuk mengantisipasi kekeringan. Sapto memaparkan kedelapan sumur tersebut dikelola warga Dusun Gedang, Kikis, Sawo, dan Sembir di Desa Sambirejo, Dusun Pereng di Desa Sumberharjo, Dusun Jontro dan Jali di Desa Gayamharjo, serta Dusun Mlakan di Desa Madurejo.
Sementara itu, tiga sistem jaringan air bersih di Prambanan secara bertahap akan dilakukan konversi energi dari solar ke listrik. Saat ini baru sistem II di Dusun Bleber Desa Sumberharjo yang energi penggerak pompanya sudah dikonversi dari solar ke listrik.
Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito mengungkapkan terdapat beberapa saluran yang perlu diperbaiki pada sistem jaringan air bersih di Prambanan. Misalnya sarana perpipaan di Bleber, ada kerusakan sepanjang sekitar satu kilometer karena pipanya sudah cukup tua dan aus.
Setelah perbaikan jaringan dan konversi energi selesai, ketiga sistem tersebut diharap mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 5.242 keluarga di kawasan perbukitan Prambanan. Biaya operasional pun dinilai lebih hemat jika pompa digerakkan dengan energi listrik.


