Sleman – Keberadaan wayang sebagai salah satu kearifan lokal tanah Jawa terus tergerus oleh zaman. Padahal, wayang sebagai kebudayaan asli Jawa memiliki posisi yang dekat dengan masyarakat. Banyak masyarakat yang memanfaatkan wayang untuk berbagai macam tujuan, seperti untuk hiburan dan media pembelajaran norma dan nilai dalam kehidupan. Sehingga, keberadaan wayang harus dilestarikan sebagai salah satu bentuk identitas asli Indonesia.
Adalah Martaya (50) seorang seniman dari Banjarsari, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman yang masih terus menjaga kelestarian wayang sebagai kebudayaan asli dari Jawa ini. Martaya adalah seorang pengrajin wayang yang masih bertahan sampai saat ini.
Membuat wayang adalah hobi Martaya dari kecil. Martaya mendapatkan pengetahuan tentang tata cara pembuatan wayang dari Ayahnya. Martaya mengatakan, wayang yang Ia buat pada awalnya hanya untuk kepentingan koleksi pribadi saja.
“Saya menyimpannya dari beberapa tahun yang lalu sebagai koleksi,” ujar Martaya ketika ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat produksi wayangnya pada Rabu (28/7/2021).
Namun, saat melihat banyak relasinya yang berminat untuk membeli wayang yang dibuatnya, Martaya tertarik untuk menjadikan hobinya tersebut sebagai peluang bisnis. Hingga pada tahun 2010, Martaya mulai menekuni bisnis kerajinan wayang ini.
Wayang yang dibuat oleh Martaya berasal dari kulit kerbau asli yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Ia mendapatkan kulit tersebut dari para pengepul kulit kerbau dari daerah Imogiri. Martaya memilih kulit kerbau sebagai bahan dasar wayangnya karena ketahanan kulit kerbau yang lebih bagus dari pada kulit sapi.
“Kulit kerbau lebih tahan lama dan lebih elastis dari pada kulit sapi,” tukas Martaya.
Untuk memproduksi satu buah wayang, Martaya membutuhkan waktu hingga 7 hingga 10 hari, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya desainnya. Harga wayang buatan Martaya juga beragam, dimulai dari kisaran 1 juta hingga 5 juta rupiah.
“Sekali produksi bisa membuat 2 hingga 4 wayang dalam satu bulan tergantung permintaan,” ujar Martaya
Martaya juga membeberkan bahwa Ia memproduksi wayang hanya berdasarkan pesanan dari pelanggan, tidak menjual wayang langsung jadi. Para pelanggan biasanya harus memesan terlebih dahulu mengenai wayang yang ingin dibeli.
“Saya membuat wayang sesuai permintaan customer (pelanggan), ada juga yang sudah digambar oleh customer, jadi saya tinggal mengukir dan mewarnainya saja,” beber Martaya.
Wayang yang dibuat oleh Martaya saat ini sudah dikenal di beberapa kota di luar Yogyakarta, bahkan hingga luar negeri. Hal tersebut kata Martaya dibantu oleh promosi yang dilakukan oleh para pelanggannya, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Sekarang apalagi melalui Facebook itu keluar Jogja juga, kemarin Tulungagung, Tangerang, Bogor, Semarang, luar negeri juga ada ke Kanada, Belanda, tapi itu melalui dosen UGM yang pesen,” ungkap Martaya.
Martaya berharap para pengrajin wayang dapat terus bertahan di tengah kemajuan zaman saat ini. Ia juga menuturkan keinginannya untuk mewariskan keahliannya sebagai pengrajin wayang kepada anak-anaknya.
“Saya juga mengajarkan ini kepada anak laki-laki saya agar dapat meneruskan usaha ini nantinya,” pungkas Martaya. (Rep Rahayu/Nikke)


