Sleman – Dusun Kemiri yang berada di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, merupakan salah satu daerah penghasil komoditas unggulan salak pondoh di Kabupaten Sleman. Namun salak pondoh dihargai terlalu rendah, tidak sebanding dengan biaya penanamannya. Hal tersebut yang menjadi alasan Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum di Lereng Merapi, berinovasi untuk dapat meningkatkan nilai jual dari salak pondoh.
Rini Handayani (47) salah satu anggota dari Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum yang berinovasi mengolah salak pondoh menjadi manisan dengan label “Sarisa Merapi”. Rini telah menggeluti bisnis manisan salak ini sejak tahun 2016.
Manisan salak pondoh tersebut terbuat dari salak asli dengan tingkat kematangan maksimal 70% yang telah di rendam dengan air gula kemudian dikemas secara higienis dengan mesin modern. Dalam satu cup berisi 2 salak yang telah dipotong menjadi 2 bagian lalu diberi air gula yang telah direbus.
Rini mematok harga manisan salak pondohnya sebesar Rp. 15.000/pak dengan isi satu paknya ada 6 cup. Untuk harga, Rini mematok menjadi dua, yaitu untuk pengecer sebesar Rp. 15.000 dan untuk konsumen sebesar Rp. 20.000. Hal itu dilakukan menurut Rini agar para pengecer lebih merasa dihargai.
“Kami ada dua harga, untuk reseller dan harga konsumen karena kami gak akan merusak harga reseller jadi sebagai reseller merasa dihargai, untuk manisan salak harga konsumen Rp. 20.000, kalau reseller untuk manisan salak Rp.15.000,” ujar Rini di rumah produksinya di Dusun Kemiri, Sleman, Selasa (3/8/2021)
Sebelum pandemi, Rini menaruh produknya di toko oleh-oleh dan bandara. Ia juga membuka ruang produksinya untuk para tamu sebagai edukasi pembuatan manisan salak pondoh sekaligus bentuk promosi dan pemasarannya dalam bentuk oleh-oleh. Namun saat pandemi ini, Rini hanya memasarkan melalui media online seperti marketplace dan media sosial.
Sebelum pandemi Rini membeberkan bahwa omzet yang didapatkannya selama satu bulan dapat mencapai hingga 200 juta, namun mengalami penurunan ketika pandemi terjadi.
“Omzet sebelum pandemi, kami hampir mencapai 200 juta per bulan, tapi di pandemi satu bulan itu apalagi PPKM itu kita hanya bisa menjual apa yang kita produksi kemaren-kemaren itu kita hanya omzet sekitar 5 jutaan,” ujar Rini Handayani.
Semangat Rini tidak pernah pudar untuk terus mengembangkan bisnisnya. Selain manisan, salak pondoh juga diolah Rini menjadi produk Dodol Salak dan Sari Salak.
Walaupun omzet menurun drastis saat ini, Rini percaya produk yang dijualnya sangat berkualitas dan mampu bersaing dengan produk lainnya. (Rep Nikke/Rahayu)


