Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mulai mempersiapakan proses pembelajaran tatap muka bagi siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sleman. Hal tersebut dikarenakan siswa yang telah divaksin di Kabupaten Sleman telah mencapai 90,54%, melebihi standar yang ditetapkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yakni 80%.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Ery Widaryana menjelaskan bahwa persiapan pembelajaran tatap muka telah disampaikan Pemerintah Kabupaten Sleman kepada sekolah-sekolah beserta dengan Standar Operasinal Prosedur (SOP) yang harus dilakukan.
“Sekolah-sekolah kita harapkan untuk menyiapkan yang kaitannya dengan SOP Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Masa Transisi,” jelas Ery Widaryana pada saat jumpa pers terkait Persiapan Pembelajaran Tatap Muka di Kabupaten Sleman di Pendopo Parasamya Sekretariat Daerah Sleman, pada Selasa (21/9/2021).
Pembelajaran tatap muka ini, lanjut Cahya, ditetapkan sebagai pembelajaran tatap muka terbatas masa transisi, dan direncanakan akan dilakukan selama 2 bulan masa transisi untuk melihat perkembangan dari COVID-19.
“Kita rencanakan masa transisi ini 2 bulan sambil melihat perkembangan COVID-19 seperti apa, di samping SOP yang kita lakukan kami sudah menyampaikan kaitannya dengan persyaratan ketentuan pembelajaran tatap muka terbatas masa transisi,” ujar Ery.
Untuk SOP-nya sendiri, Ery Widaryana mengimbau sekolah-sekolah untuk memperhatikan protokol kesehatan yang ada yaitu pengaturan sarana cuci tangan, pengecekan suhu badan, penyediaan alur untuk siswa yang datang dan pulang, mengatur strategi pembelajaran yang dilakukan, serta penerapan waktu pembelajaran. Sementara untuk persyaratan memulai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Masa Transisi ini dengan melengkapi data periksa dan surat persetujuan dari orang tua.
Untuk jangka waktu pembelajaran, Ery Widaryana mengatakan pembelajaran siswa SD dilakukan maksimal 2 jam, sedangkan untuk siswa SMP dilakukan maksimal 3 jam.
“Pembelajarannya satu minggu ini maksimal satu anak maksimal 2 hari dengan SD kita buat maksimal 2 jam, SMP 3 jam, juga di awal-awal ini digunakan sebagai pertemuan awal antara guru dan siswa sehingga nanti lanjutannya bisa ke mapel karena harus ada pendampingan di awal,” ungkap Ery.
Ia juga mengingatkan agar para guru dan tenaga pendidik untuk datang lebih awal sebelum para siswa datang, agar siswa dapat terfasilitasi dan diatur untuk mengikuti proses yang telah dipersiapkan. (Rep Nikke)


