Sustainable Eco Tourism Jadi Solusi Bangkitkan Dunia Pariwisata

Sleman – Dalam rangka optimalisasi pengembangan wisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian alam dan budaya maka Lembaga Konsultan Social Investment Indonesia (SII) yang bergerak di bidang pengembangan dan penyebaran peran penting dan strategis serta manfaat investasi sosial menginisiasi kegiatan diskusi bertajuk Social Invesment Roundtable Discussion (SIRD) #27 secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting, Jumat (8/10/2021) sore.

Diskusi yang dipandu oleh Deni Ejar sekaligus Manajer SII menghadirkan narasumber Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda dengan mengangkat tema ‘Relaksasi Pemulihan Ekonomi Pariwisata Paska Pandemi’.

Dalam materinya, Yanuarto Bramuda mengungkapkan bahwa setelah pandemi COVID-19 terkendali maka harus langsung bersiap menangkap momentum bangkitnya sektor wisata dan ekonomi kreatif karena saat ini semua mata dari puluhan juta orang kelas menengah di Indonesia sedang merencanakan berwisata kemana. Sehingga daerah harus siap dan jangan sampai kehilangan momentum.

Ia menjelaskan bahwa setelah pandemi COVID-19 terkendali, orang akan kembali berburu aktivitas leisure seperti berwisata, kuliner, nongkrong bareng teman, relaksasi diri, dan sebagainya. Untuk itu, perlu adanya syarat tambahan agar pariwisata diminati oleh pasar, serta perlu langkah yang inovatif, adaptif, dan kolaboratif dalam mengoptimalkan sustainable eco-tourism.

”Syarat tambahan tersebut adalah harus makin digital, harus makin kreatif, dan harus makin sehat,” tutur Bram sapaan akrabnya.

Menurutnya makin digital adalah dari hulu ke hilir penyelenggaraan pariwisata dengan membangun layanan one stop service application bagi wisatawan yang mencakup informasi wisata, booking e-tiket destinasi dan atraksi, informasi kuliner, informasi pilihan hotel dan restoran, paket wisata, serta angkutan wisata gratis.

“Selanjutnya harus semakin kreatif dengan menciptakan nilai tambah yang baru misal berkolaborasi dengan penyelenggaraan event. Misalnya mendukung konsep staycation di hotel dengan membeikan atraksi kesenian, dan musik sebagai relaksasi paska pandemi COVID-19,” jelas Bram.

Syarat terakhir yaitu harus makin sehat, maksudnya melengkapi diri dengan standar festival dan pengelolaan destinasi berorientasi sehat yang menjamin lingkungan sehat bagi wisatawan, dan perlu strategi mendorong minat masyarakat untuk vaksin melalui kegiatan vaksinasi yang dilakukan di destinasi wisata.

Dengan dukungan sarana prasarana protokol kesehatan pada destinasi wisata maka dapat memberikan stimulan percepatan pemulihan ekonomi sektor pariwisata dan kesiapan destinasi pada saat menerima pengunjung. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: