Sleman – Sektor pertanian saat ini masih belum bisa terlepas dari penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dalam mengembangkan dan menjaga tanaman. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia tersebut memiliki efek negatif jika digunakan dalam jangka panjang, seperti dapat memperburuk kesuburan tanah, dan membuat tanaman menjadi rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Untuk meminimalisir tersebut, maka para petani dianjurkan untuk menggunakan metode organik, yang memang lebih mengedepankan keamanan jangka panjang.
“Pertanian organik memang tidak memberikan hasil instan, namun akan membawa kejayaan pertanian dalam jangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat dan berkualitas,” ujar Nurcahyo, perwakilan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Perwakilan Daerah Muhammadiyah Sleman saat menghadiri Diskusi dan Pelatihan Pertanian Organik, Pelestarian Sumber Daya Air, Petani Milenial, dan Masa Depan Pertanian di Balai Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Rabu (24/11/2021).
Hal senada juga disampaikan oleh Lurah Donokerto, Waluyo Jati. Menurutnya, Donokerto memiliki potensi untuk mengoptimalkan pertanian secara organik. “(Pertanian organik) juga dapat dikemas dengan kegiatan wisata,” imbuhnya di depan para peserta yang terdiri dari organisasi masyarakat, kelompok tani, kelompok wanita tani, dukuh, penyuluh pertanian, dan petani di wilayan Turi.
Diskusi sendiri diisi oleh Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono yang memberikan materi mengenai kebijakan pemerintah dalam pengembangan pertanian organik. Selain itu, hadir pula Sri Wahyuningsih dari Komunitas Banyu Bening dan Ahamd Syawaludin, seorang praktisi pertanian. Masing-masing memberikan materi yang membahas Urgensi Pelestarian Sumber Daya Air dalam Pengembangan Pertanian Organik dan Prospek Pertanian Organik. (Arief Hartanto)


