Gelar Budaya Perpaduan Pemerintah dan Universitas

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Yuni Satya Rahayu SS MHum menyatakan bahwa kegiatan gelar budaya Sabang Merauke yang dilaksanakan di Kecamatan Depok, Sabtu (18/10) lalu adalah bentuk keterpaduan antara pemerintah dan pihak Universitas. 

“Kecamatan Depok merupakan wilayah yang sentral di Sleman, karena di wilayah ini merupakan pusatnya Kampus dan juga pusatnya keramaian, selain itu warga masyarakat di Kecamatan Depok sangat heterogen dan ditambah lagi setiap tahun mahasiswa baru datang ke wilayah ini,” kata Yuni di Sleman, Senin (20/10) menanggapi digelarnya seni budaya Sabang Merauke.

Menurut Yuni, Sleman adalah miniaturnya Indonesia, terlebih lagi pada tahun 2015 akan memberlakukan MEA tentunya, harus siap bersaing menghadapi hal tersebut, dan wabup juga berpesan agar kegiatan postif ini agar dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Gelar seni budaya Sabang Merauke mengambil tema “merajut seni budaya membangun harmoni kehidupan bersama masyarakat kecamatan depok”.

Camat Depok Drs Budiharjo menyampaikan bahwa, kegiatan ini telah dimulai pada jam 15.00 dengan pementasan jathilan dari desa Condongcatur, adapun pengisi dari kegiatan ini adalah dari desa – desa di seluruh Kecamatan Depok dan perwakilan dari peguruan tinggi. Kegiatan ini merupakan bentuk silaturahmi antara pihak pemerintah, masyarakat, dan juga pihak perguruan tinggi. Kecamatan Depok merupakan Kecamatan yang memiliki jumlah kampus terbanyak di dunia yaitu lebih dari 25 kampus, oleh karena itu setiap tahunnyatidak kurang dari 100 ribu mahasiswa datang untuk belajar di wilayah kecamatan depok ini.

Dengan adanya mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia tentunya membawa budaya masing-masing yang ada di Indonesia.  Hal ini juga memberikan efek positif dan negatif, oleh karena itu kita sebagai aparat pemerintah harus menekan efek negatif tersebut. Sedang Amara Nugraheni, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan STTNAS yang juga merupakan ketua konsusrsium perguruan tinggi di wilayah Babarsari, menyatakan bahwa kegiatan ini berawal dari bentuk keprihatinan kampus-kampus yang adadisekitar Babarsari.

Banyak sekali dari mahasiswa yang datang belajar di perguruan tinggi ini sering kali tidak dapat menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di sekitarnya, sehingga terjadi gesekan-gesekan dengan warga yang ada disekitarnya. Sehingga pihak kampus berusaha untuk menyelaraskan hal-hal tersebut, sehingga dapat menciptakan suasana aman dan tentram.

Hal ini juga akan memiliki dampak yang baik bagi mahasiswa yang belajar di wilayah Depok, sehingga ketika nantinya mereka pulang ke daerah masing-masing akan memberikan kesan yang baik terhadap tempat belajar mereka di Sleman.

image_pdfimage_print
Bagikan: