Skrining Lansia Harus Dilakukan Secara Merata

Sleman – Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam penguatan kader Posyandu Lanjut Usia adalah menjadikan Program Lansia sebagai program esesnsial untuk mendukung kegiatan kelanjutusiaan di Puskesmas DIY. Hal tersebut mengemuka dalam audiesnsi yang dilakukan oleh Tim Studi Kesehatan Lansia Berbasis Komunitas yang dilaksanakan di Ruang Meeting Lantai 2 Kantor Surveymeter di Jalan Jenengan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (6/12/2021).

Endra Dwi Mulyanto, dari Surveymeter DIY yang mewakili Tim Studi mengemukakan hasil temuan yang didapatkan berdasarkan survei yang telah dilakukannya. Ia menggarisbawahi mengenai skrining lanjut usia yang belum merata dan maksimal dilakukan, sesuai dengan cakupan wilayah.

“Padahal, sesuai Permenkes Nomor 4 tahun 2019 mengamanatkan bahwa kepada semua lanjut usia melakukan skrening paling tidak satu kali dalam setahun. Karena Skrening berfungsi sebagai deteksi dini dari berbagai penyakit yang dialami oleh para lanjut usia sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat waktu dan dapat mengurangi biaya kesehatan,” jelas Endra.

Ia mengatakan salah satu faktor yang belum mempengaruhi belum maksimalnya skrining yang dilakukan adalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) Puskesmas, di mana SDM yang bertugas melayani lansia sering bertugas di bagian lain.

“Isu bahwa program lanjut usia yang saat ini belum menjadi program esensial di puskesmas menjadi perhatian stakeholder semua,” imbuh Endra.

Menyikapi paparan yang diberikan oleh Surveymeter, Suripto, Pengurus Komisi Daerah Lanjut Usia mengatakan mengatakan ada 3 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama adalah harus adanya edukasi dan penyuluhan yang dilakuka secara merata, baik kepada kelompok posyandu lansia, maupun terhadap lansianya sendiri.

“Karena banyak yang belum memahami pentingnya skrining,” ujar Suritpto.

Untuk yang kedua, Suripto menyampaikan bahwa perlunya membentuk kader yang unggul, agar bisa mendukung SDM puskesmas dan posyandu lansia yang terbatas jumlahnya. Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah menyosialisasikan hasil studi yang telah dilakukan ini, agar dinas dan instansi terkait dapat mempersiapakan dukungan pelayanan yang baik.

“Hasil dari studi ini memang sesuai dengan kondisi atau keadaan di lapangan, sehingga perlu advokasi bersama agar program lansia dapat menjadi program esensial di puskesmas,” ungkap Suripto.

Sementara itu, Suyanto dari Forkom LKS Lansia menekankan mengenai pentingnya dilakukan standarisasi posyandu lansia untuk mendapat gambaran kompetensi dari organisasi puskesmas.

“SDM posyandu lansia juga perlu didampingi agar dapat meningkatkan kapasitasnya,” tegas Suyanto.

Hal senada juga disampaikan oleh Sampoerno, Pengurus Komda Lansia DIY. Menurutnya SDM di posyandu lansia memang perlu dilatih agar tidak memberatkan tugas lainnya. (Srp/KIM Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: