Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, memprioritaskan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) melalui pendekatan kluster 4 komoditas unggulan di wilayah setempat. “Inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi berbasis industri menuju ekonomi dan daya saing daerah,” kata Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dra Sudarningsih MSi, kemarin.
Dikatakan Sudarningsih bahwa adanya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian cenderung terus menurun hal ini disebabkan oleh semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan belum optimalnya penerapan inovasi di sektor pertanian,” kata Sudarningsih.
Menurut Sudarningsih dengan SIDa secara prinsip telah diatur Peraturan Bersama Menristek dan Mendagri Nomor 3 Tahun 2012 dan Nomor 36 Tahun 2012 tentang penguatan SIDa. “Tujuannya adalah untuk menumbuhkembangkan suatu sistem atau jejaring yang akan meningkatkan keunggulan komparatatif daerah menuju keunggulan kompetitif yang mempunyai daya saing berbasis inovasi di daerah,” tutur Sudarningsih.
SIDa lanjut Sudarningsih adalah keseluruhan proses dalam satu sistem untuk menumbuhkan inovasi yang dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintah daerah, lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, lembaga penunjang inovasi dunia usaha dan masyarakat di daerah atau jejaring Akademisi-Bisnis-Government-Community.
“SIDa Kabupaten Sleman di fokuskan pada bidang pertanian dikhususkan pada empat produk yaitu padi, salak pondoh, kambing PE dan bambu,” katanya. Sedangkan luas lahan pertanian di kabupaten Sleman 43 persen dari luas wilayah.
“Kabupaten Sleman sebagai lumbung padi DIY dan salak pondoh merupakan flora identitas Kabupaten Sleman dan Kambing PE di Kabupaten saat ini sudah mengalahkan branding Kaligesing, Purworejo Jawa Tengah sebagai peternakan kambing PE, serta bambu saat ini sudah ditetapkan melalui SK Bupati Sleman sebagai hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK),” tambahnya. ***


