Menumbuhkan Toleransi Melalui Penguatan Moderasi Beragama

Beragam budaya, bahasa, dan agama yang ada di Indonesia dapat menjadi modal untuk menguatkan kesatuan dan persatuan. Namun, terkadang perbedaan tersebut rentan menimbulkan isu yang berhubungan dengan sara, kekerasan, bahkan pada sebuah radikalisme. Hal ini ditindaklanjuti agar tidak terjadi sebuah integrasi bangsa.

Berangkat dari hal itu, Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Dalam Rangka Penguatan Moderasi Beragama Bagi Madrasah Diniyah Takmiliyah pada Rabu (15/6/2022) di Jl Kaliurang KM 10,8 Gadingan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Sangaji dari Bidang Pendidikan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Sleman menyampaikan bahwa  perlu adanya sebuah upaya untuk menanamkan sebuah sikap moderat dan juga toleran bagi seorang santri. Sehingga dalam upaya ini, sangat diperlukan penanaman akhlak dan budi pekerti yang baik bagi santri untuk menghargai sebuah perbedaan.

Menurutnya dalam moderasi beragama terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. “Di antaranya adalah sebuah komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan menghargai terhadap budaya lokal,” ujar Sangaji.

Kegiatan yang berlangsung satu hari ini, turut menghadirkan Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah dan guru pengajar dari beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman. Dihadirkan pula narasumber Nasional yang memiliki kompetensi dalam bidang materi moderasi beragama, yaitu Gus Irwan Masduki, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Mlangi Yogyakarta.

Dalam acara ini, turut dipaparkan berbagai hal yang harus dihadapi guna tercapainya moderasi beragama. Selain itu juga terdapat sesi diskusi mengenai beberapa fenomena yang kerap terjadi dilingkungan sekitar dan berkaitan  mengenai konsep moderasi beragama.

Sangaji berharap acara ini dapat menjadikan lembaga pendidikan terkhusus pada Madrasah Diniyah Takmiliyah, untuk tetap mengedepankan karakter. Sebab saat ini target dalam terlaksananya transformasi pendidikan kurang dibarengi oleh penguatan akhlak seorang anak. “Sehingga Kemenag Sleman berharap agar madrasah tidak hanya terfokus pada pendidikan dalam hal kognitif, namun juga budi pekerti seorang siswa,” tutup Sangaji. (Ajeng/KIM Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: