Memberdayakan Kelompok Difabel dengan Pelatihan Boga

Ngaglik – Tak hanya niat yang kuat dan dibekali keterampilan dalam bidang memasak, kejujuran pun menjadi sebuah modal penting dalam menjalankan usaha di bidang kuliner.

“Orang harus jujur termasuk kepada pelanggan. Misalnya menjual soto, jika sudah habis bilang habis , jangan bilang masih lalu diberi bumbu seadanya karena itu akan menjadikan kehilangan pembeli,” ujar Eko Suhargono, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman saat menutup secara resmi Pelatihan Boga bagi Penyandang Disabilitas di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (15/7/2022).

Selain kejujuran, tekad yang kuat juga menjadi kunci sukses lainnya. Tekad ini harus diwujudkan dengan tindakan nyata.

“Misalnya memiliki minat pelatihan boga, (kemudian) sudah diajari, maka minat itu harus dijalankan,” lanjut Eko lagi.

Hal berikutnya yang juga penting adalah kontinuitas. “Niat atau kemauan harus dilakukan dengan betul jangan “dat-nyeng” atau tidak stabil, kadang baik, kadang buruk, kadang semangat, kadang tidak semangat,” lanjut Eko.

“Kadang, kita bahkan kalah dengan burung dan ayam. Mereka, ketika sinar matahari mulai muncul sudah bangun dan mencari makanan sementara kita masih kalah dengan rasa dingin dan malas. Padahal Tuhan akan memberi dengan kita berusaha,” pungkas Eko.

Pelatihan Boga bagi Penyandang Disabilitas ini telah selesai diselenggarakan, dimulai sejak 11 Juli dan diikuti peserta sebanyak 10 orang difabel atau keluarganya. Pelatihan ini diharapkan mampu memberi manfaat bagi para peserta, keluarga, maupun orang lain dengan tujuan akhir bisa memberdayakan kelompok difabel.

Menghadirkan pelatih dari Jurusan Tata Boga UNY, materi yang diberikan antara lain pembuatan kroket jagung, ayam kremes, bolu tape, keripik pisang, nuget pisang, donat, kue kering, onde-onde, sempol ayam, dan kacang sembunyi. (Endarwati/KIM Donoharjo)

image_pdfimage_print
Bagikan: