Sleman – Kebutuhan akan desa wisata inklusif yang ramah difabel, menjadi alasan Alexander Farrel, Mahasiswa UGM penyandang Difabel netra yang juga merupakan anggota Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) mengunjungi Lurah Pakembinangun, Suranto pada Sabtu (30/7/2022). Ia bersama bersama rekannya yaitu Kuni Fatonah, Asisten Program SIGAB, Muhammad Karim Amrullah, seorang Dosen UNY, Tio Tegar, Advokasi dan Penelitian Umum Sigab berkunjung ke Kalurahan Pakembinangun untuk bekerja sama menyosialisasikan tentang kebutuhan akan desa wisata yang ramah terhadap penyandang difabel.
“Karena biasanya kaum-kaum difabel jarang diperhatikan, karena tidak semua orang bisa menerimanya. Antara takut dan khawatir tidak bisa optimal menolong. Monggo nanti teman-teman (dari SIGAB) yang hadir di sini agar bisa mengungkapkan, apa yang harus kami perbuat dan apa yang harus kami kerjakan sebagai pemangku wilayah agar segala fasilitas di Pakembinangun mampu mendukung aksesibilitas para difabel,” papar Suranto mengenai rencana membuat Pakembinangun sebagai Healing Tourism yang akan dilakukan bekerja sama dengan KKN PPM UGM ini.
Kuni Fatonah, menuturkan bahwa SIGAB telah berupaya untuk memperhatikan dan mebeberikan advokasi untuk para difabel dalam ranah desa yang inklusif, agar tetap berdaya di tengah masyarakat, sehingga tercapai kesetaraan dengan orang non-difabel.
“Jika ada teman-teman difabel yang terkena kasus seperti bullying dan lain-lain, akan kami dampingi. Kita datangkan ahli-ahli di bidangnya seperti contohnya para ahli hukum yang hadir ini. Contohnya orang yang tuli dianggap tidak dapat menjadi saksi di depan hukum. Maka kami ciptakan trik dan cara untuk menggalang advokasi itu, yaitu penyetaraan dalam bidang hukum, advokasi difabel di ranah hukum, dan desa inklusi,” terangnya.
Ia berharap dengan apa yang dilakukannya ini, dapat lebih membuat masyarakat untuk melek terhadap difabel. “Karena difabel pun ada dan banyak yang berdaya yang menjadi dosen seperti Mas Karim ini. Jadi kami harap ada masyarakat yang inklusif agar para teman-teman difabel ini setara dengan masyarakat lain,” ungkap Kuni.
Menanggapi rencana healing tourism, Alexander Farrel menuturkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan adalah menyosialisasikan tentang seluk-beluk disabilitas, seperti maknanya, bagaimana penanganan dan interaksi kepada penyandang disabilitas, dan apa saja fasilitas yang diperlukan penyandang disabilitas untuk menggunakan fasilitas umum.
“Paradigma lama bahwa difabel itu harus dikasihani. Ini harus dirubah. Kita jadikan paradigma itu menjadi paradigma penyetaraan dan pemenuhan hak difabel karena mereka dan kita itu setara. Ketika disinggungkan dengan pariwisata, semua orang berhak berpariwisata, termasuk juga difabel. Maka dalam pariwisata tersebut harus disediakan fasilitas yang dapat menunjang penyandang disabilitas yang inklusif bagi para penyandang disabilitas itu,” ungkapnya.
Selain itu, Farrel juga menjabarkan tentang kebutuhan fasilitas untuk difabel, seperti tempat parker, toilet, akses mobilitas, serta kebutuhan interaksi dengan para petugas.
“Kami mengharap agar Bapak Suranto bersama jajarannya dapat membangun kebijakan untuk membuat desa pariwisata yang inklusif untuk penyandang difabel,” pungkasnya. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)


