Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman masih kekurangan data terkait potensi bencana longsor. Padahal saat ini intensitas hujan mulai tinggi dan potensi longsor di sejumlah wilayah Sleman semakin besar dan mengancam warga.
Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelana, mengatakan kekurangan tersebut lantaran data yang dimiliki oleh Pemerintah Kecamatan (Pencam) di wilayah yang memiliki potensi bencana tanah longsor masih sangat minim. Data yang diberikan kepada BPBD hanya berupa wilayah yang pernah mengalami longsor.
“Memang titik yang pernah terjadi longsor masih memiliki potensi, namun titik rawan justru belum terdata. Kondisi ini sangat menyulitkan karena bencana longsor sulit diprediksi,” katanya kepada wartawan, Selasa (25/11). Menurutnya, wilayah yang paling sulit diprediksi terjadinya longsor adalah Kecamatan Prambanan. Kondisi tanah yang berupa lapisan batuan menyulitkan memprediksi besarnya longsor yang dapat terjadi.
“Terlebih, tipikal longsorannya tidak seperti wilayah rawan longsor pada umumnya, yakni landslide atau pergeseran permukaan tanah namun berupa pecahan batu. Sehingga besarnya longsornya tergantung patahan batunya,” paparnya.


