Guna mengatasi ketimpangan informasi dan teknologi di kalangan perempuan serta mampu membendung narasi kebencian yang merebak di dunia maya, Pondok Pesantren Qoryatussalam bersama Rijalul Ansor Kabupaten Sleman meluncurkan Program Pesantren Programmer Angkatan ke-2 yang berlangsung di Aula Peace Village Asrama Pesantren Qoryatussalam, Jalan Taraman Raya Nomor 1, Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (26/8/2022) malam.
Peluncuran Pesantren Programmer tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, didampingi Ketua Rijalul Ansor Pusat, KH. R. Mahfudz Chamid, serta Pendiri Pondok Pesantren Qoryatussalam, Yenny Wahid yang hadir secara virtual menggunakan layar lebar.
Dalam sambutan pembukanya, Yenny Wahid yang merupakan putri mendiang Presiden Republik Indonesia yang Keempat, Abdurrahman Wahid menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Qoryatussalam dikhususkan untuk santri perempuan yang akan ditempa selama tiga bulan mengenai penguasaan teknologi informasi dalam bentuk bahasa pemrograman komputer, dan socio entrepreneur.
“Para santriwati diharapkan dapat menguasai materi pemrograman berupa Algoritma, Django, Python, Databe, maupun Amazon Web Services (AWS) yang diberikan oleh mentor-mentor yang berpengalaman sehingga ke depan menjadi programmer yang handal, serta mampu membendung narasi kebencian yang marak disebarkan di dunia maya,” tutur Yenny.
Selain materi teknologi pemrograman, peserta didik yang berlatar belakang pendidikan formal Sekolah Menengah Atas hingga Perguruan Tinggi dan sudah terseleksi juga digembleng menjadi insan yang moderat, memiliki jiwa toleran, serta menjunjung kebhinekaan sebagai ciri Bangsa Indonesia.
Senada dengan putri Gus Dur, Ketua Tanfidziyah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor mengatakan kelas pesantren programmer tersebut adalah yang pertama di Indonesia dan dipilih karena untuk menyikapi di abad ke-21 ini perkembangan teknologi perkembangannya semakin cepat yang mengharuskan seluruh aktivitas manusia di seluruh belahan dunia tergantung dengan teknologi.
“Pesantren Programer Qoryatus Salam menjadi contoh pengelolaan pesantren yang dilakukan secara modern melalui digitalisasi. Karenanya dapat dijadikan model sebagai sarana pemberdayaan perempuan melalui pemberian kesempatan belajar dalam bidang teknologi informasi,” kata Kyai Zuhdi.
Sedangkan materi agama di Pondok Pesantren Qoryatussalam merujuk referensi pada kitab risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah karya Hadaratus Syeikh KH. Hasyim Asyari. Serta ilmu tata laksana dan hukum dalam Islam atau fiqh mengadopsi Kitab Fathul Qorib, ditambah pelajaran etika yang mengacu pada Kitab Adabul ‘alim Wal Muta’alim. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


